Razia Cotok, Dua Ditangkap, Puluhan Kabur

Kamis, 30 April 2015 | 16:51 WIB
Petugas gabungan dari polisi perairan, TNI AL, dan Dinas Kelautan Rembang mengamankan dua unit perahu dan empat cotok milik nelayan Desa Pasarbanggi dan Tritunggal Kecamatan Rembang, Kamis (30/4/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

Petugas gabungan dari polisi perairan, TNI AL, dan Dinas Kelautan Rembang mengamankan dua unit perahu dan empat cotok milik nelayan Desa Pasarbanggi dan Tritunggal Kecamatan Rembang, Kamis (30/4/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Polisi Perairan, TNI Angkatan Laut, serta petugas Dinas Kelautan dan Perikanan di Rembang menggelar razia jaring cotok pada Kamis (30/4/2015) pagi. Dua perahu berikut masing-masing satu orang nelayannya diamankan di Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Rembang.

Dua nelayan itu adalah Abdul Mukhid warga Desa Tritunggal dan Suroso warga Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang. Sebenarnya, selain dua nelayan ini masih ada kira-kira 30 perahu lain yang ditengarai menggunakan jaring cotok saat operasi berlangsung. Hanya saja, mereka kabur dari razia petugas.

Abdul Mukhid mengaku nekat kembali menggunakan jaring cotok karena hasil tangkapan jika menggunakan jaring biasa disebut tak seberapa. Dia bisa saja menggunakan gilnet atau jaring insang atau juga bubu.

“Namun ongkos untuk membeli gilnet atau bubu bisa sampai belasan juta rupiah. Kalau pakai jaring cotok cukup dengan Rp500 ribu, bisa jalan. Terlebih, kalau pakai cotok, satu perahu hanya cukup diawaki satu orang,” kata Mukhid, bapak tiga anak itu.

Mukhid mengakui, pernah mendapat bantuan dari Pemerintah. Namun nilai bantuan itu disebutnya hanya cukup untuk membeli mesin perahu. Dia berjanji berhenti “nyotok” jika dibantu jaring serambi yang ramah lingkungan.

“Kalau dibantu alat jaring ‘play’ (jaring serambi, red.), kami siap berhenti ‘nyotok’ saat ini juga. (Harga jaring serambi) Itu lebih dari Rp50 juta,” kata Suroso nelayan cotok lainnya.

Menurut keterangan Imam Fatoni, petugas polisi perairan setempat, dua nelayan cotok itu ditangkap dari Perairan Pasarbanggi, kira-kira dua mil dari bibir pantai pada pukul 08.00 WIB. Dia membenarkan ada puluhan perahu cotok lainnya yang lepas karena keterbatasan petugas di lapangan.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang Sya’roni menyesalkan masih ditemukannya nelayan yang menggunakan jaring cotok.

“Kami sesalkan karena razia yang demikian sudah sering dilakukan. Hingga April ini saja, sudah tiga kali ini, kami menggelar razia cotok,” katanya.

Dia mengaku tahu alasan nelayan yang nekat memakai lagi jaring sejenis pukat harimau ini, adalah soal usaha pemenuhan kebutuhan. Namun, penggunaan jaring cotok tetap saja merusak ekosistem laut.

“Kami akan terus melakukan pembinaan, sehingga nelayan jera. Yang tidak menggunakan, agar juga tidak ikut-ikutan memakai (jaring cotok),” tegasnya.

Soal proses hukum terhadap dua nelayan yang ditangkap itu, akan diserahkan kepada pihak polisi perairan dan TNI Angkatan Laut. Sya’roni pun menolak dianggap tidak pernah membantu nelayan dengan alat tangkap ramah lingkungan.

“Baru-baru ini, Pemerintah memberi bantuan bubu kubah bagi nelayan. Sudah diuji coba dan nyatanya berhasil,” terangnya.

Kepala Seksi Pengolahan dan Penangkapan Ikan Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang Sunyoto menambahkan, 600 unit bubu kubah atau alat tangkap rajungan paling modern, pernah diberikan kepada nelayan di Desa Kabongan Lor Kecamatan Rembang. Padahal desa itu notabene sudah bebas cotok.

“Nelayan di desa lain yang masih memakai cotok bukannya tidak diperhatikan, karena mereka juga mendapat bantuan program usaha mina pedesaan (PUMP) yang nilainya Rp100 juta per kelompok. September nanti, rencananya ada bantuan 3.000 lagi bubu kubah bagi nelayan Sukoharjo,” imbuhnya.

Ketua Paguyuban Nelayan se-Kecamatan Rembang Supar berharap agar pengguna jaring cotok ditindak tegas. Menurutnya, jika dibiarkan tanpa proses hukum, mereka tak akan kapok. Sementara penggunaan jaring cotok, dianggapnya sangat merugikan nelayan lain yang sudah patuh aturan.

“Saya tadi sudah kontak dengan Komandan Posal Rembang agar mereka (pengguna jaring cotok, red.) diproses hukum saja agar jera. Kalau dibiarkan, bisa terjadi konflik antarnelayan saat melaut,” pungkasnya.

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan