Ratusan Pelajar Perdalam Pemahaman Islam melalui Pesantren Ramadan

Jumat, 1 Juni 2018 | 14:20 WIB

Ratusan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Avicenna Lasem mengikuti Pesantren Ramadan di sekolah setempat. (Foto: Mohammad Siroju Munir)

 

LASEM, mataairradio.com – Ratusan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Avicenna Lasem mengikuti Pesantren Ramadan.

302 pelajar yang merupakan siswa Kelas X dan XI ini menginap di lingkungan sekolah selama 14 hari sejak 27 Mei lalu. Para siswa mengikuti berbagai kegiatan yang sudah dijadwalkan.

Fika Fitrah Kamila, salah seorang pengasuh pesantren menyebutkan, kegiatan itu di antaranya pengajian kitab kuning, salat berjemaah, membaca Al Quran, salat duha, dan tahajud.

“Pesantren Ramadan digelar rutin setiap bulan Puasa dan tahun ini sudah putaran yang ketiga,” terangnya kepada mataairradio, Jumat (1/6/2018).

Menurut Fika, tidak semua pelajar di SMK Avicenna yang mengikuti Pesantren Ramadan.

Ada 25 siswa yang tidak mengikuti karena telah tinggal di pesantren di kawasan Lasem.

“Pesantren Ramadan diikuti oleh siswa yang selama ini pulang-pergi dari rumah ke sekolah,” tandasnya.

Ia menjelaskan, Pesantren Ramadan dimanfaatkan sekolah untuk memacu ibadah dalam bulan Puasa.

“Targetnya, agar para siswa lebih memahami ajaran Islam, khususnya ubudiah atau peribadahan,” jelasnya.

Mila, salah seorang pelajar Kelas XI mengaku senang dengan adanya Pesantren Ramadan.

“Senang karena selain masih bisa bertemu dengan temannya, juga bisa beribadah bersama,” tuturnya.

Karena tidak boleh pulang, maka bila ada yang kangen dengan keluarga, orang tua diperbolehkan menengok ke pesantren.

Sore hari menjelang saat berbuka, suasana pesantren biasanya ramai oleh orang tua para siswa yang menengok anak.

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan