Kuli Bangunan Temukan Ranjau Belanda di Bakal Hotel

Kamis, 6 Februari 2014 | 14:34 WIB
Ranjau dan lokasi penemuannya yang dipasangi garis batas polisi. Ranjau peninggalan Belanda itu ditemukan di lubang pondasi bakal Hotel Fave Rembang, Kamis (6 2) pagi. (Foto:Puji)

Ranjau dan lokasi penemuannya yang dipasangi garis batas polisi. Ranjau peninggalan Belanda itu ditemukan di lubang pondasi bakal Hotel Fave Rembang, Kamis (6 2) pagi. (Foto:Puji)

REMBANG, MataAirRadio.net – Seorang kuli bangunan menemukan ranjau anti-personel atau alat peledak yang ditanam dalam tanah dari peninggalan Belanda di lokasi pembangunan Hotel Fave di seberang Jalan Soedirman, utara Alun-Alun Rembang, Kamis (6/2) sekitar jam setengah sepuluh pagi.

Awalnya, seorang pekerja bernama Sunoto, warga Dusun Ngumpleng Desa Gunungsari Kecamatan Kaliori sedang menggali tanah untuk slup dan pondasi hotel. Namun saat hampir selesai menggali, dia mendapati benda berbentuk bulat lonjong, terdapat seperti pegas di bagian ujung serta bentuknya mirip granat yang pernah dilihatnya di televisi.

Khawatir terjadi sesuatu, Sunoto segera melaporkan temuannya kepada mandor yang kemudian diteruskan kepada pelaksana proyek. Pihak pelaksana proyek pun segera meneruskan laporan kepada pihak kepolisian.

Suhadi, pelaksana proyek dari PT Majapahit Asta Baja menambahkan, pihaknya juga menghubungi tim penjinak bahan peledak atau jihandak Polda Jawa Tengah. Benda tersebut perlu diamankan, agar lokasi bakal hotel bintang dua itu steril dari benda berbahaya.

Menurutnya, Hotel Fave akan memiliki tujuh lantai atau delapan lantai termasuk lantai dasar (basement). Hotel ini akan memiliki 103 kamar dan merupakan jaringan Aston Hotel International.

Saat ini, pembangunan hotel yang terletak di sebelah timur Gedung PGRI Rembang, masih dalam pembuatan pondasi dan slup. Hotel yang berada di wilayah Desa Pandean Kecamatan Rembang ini, dibangun dengan melibatkan tenaga kerja warga Rembang, Pati, dan Jawa Timur.

Sementara itu, Komandan Kodim 0720 Rembang Letnan Kolonel Infanteri Wawan Indaryanto mengatakan, benda tersebut sejenis ranjau anti-personel yang dibenamkan Belanda pada era kolonial. Sepanjang yang diketahuinya, benda temuan di lokasi bakal hotel itu terlalu besar untuk ukuran granat.

Dugaan bahwa itu merupakan ranjau anti-personel didasarkan pada kawasan garis pantai Rembang yang menjadi jalur utama militer dan perekonomian di era penjajahan. Kesimpulan sementara tim jihandak pun menyebut benda itu ranjau sehingga dievakuasi. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan