Rajungan Sepi, Nelayan Banting Setir Jadi Kuli

Minggu, 28 Juni 2015 | 15:03 WIB
Kapal milik nelayan Rembang (Foto: Pujianto)

Sejumlah kapal milik nelayan Rembang (Foto: Pujianto)

REMBANG, mataairradio.com – Sebagian nelayan di wilayah Kecamatan Rembang belakangan memilih banting setir menjadi kuli bongkar di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Tasikagung Rembang.

Hal itu setelah hasil tangkapan rajungan pada musim ini terbilang sepi. Dartono, Ketua Kelompok Nelayan di Desa Sukoharjo Kecamatan Rembang membenarkan kondisi tersebut.

“Hampir 50 persen nelayan di desa kami kini beralih menjadi kuli bongkar di TPI Tasikagung, sedangkan 50 persen lainnya memilih tetap melaut seperti biasa,” ungkapnya.

Dia sendiri mengaku menangkap ikan dengan cara mrawe (memancing), sedangkan menangkap rajungan dengan mejer hasilnya kurang memuaskan. Dia menyebutkan, saat ini bisa mendapat 1,5 kilogram saja, sudah sangat sulit.

“Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu; menangkap 7 kilo masih gampang,” tandasnya.

Saat bulan Ramadhan seperti sekarang, menurut Dartono, nelayan yang berpuasa, mengubah jam kerjanya. Mereka berangkat setelah shalat tarawih dan makan sahur di tengah laut dengan bekal dari rumah.

“Rata-rata, kami baru pulang pukul 06.00 WIB. Berangkatnya habis tarawih kalau yang puasa. Sahur di laut. Bawa bekal dari rumah,” terangnya.

Nelayan juga menyebut, musim rajungan beberapa tahun terakhir menjadi sangat pendek alias hanya sekitar satu bulan saja. Padahal sepuluhan tahun yang lalu, musim rajungan bisa sampai lima bulan.

“Pendeknya musim rajungan terjadi karena jumlah nelayan yang terus bertambah tiap tahunnya,” sebutnya.

Kepala Desa Sukoharjo Lilik Hariyanto membenarkan, saat sekarang merupakan musim paceklik bagi nelayan. Memang ada yang masih terus melaut, tapi ada juga yang banting setir jadi kuli.

“Antarnelayan mengandalkan pinjaman atau paseduluran, saling membantu guna mengatasi paceklik untuk sementara waktu,” timpalnya.

Kades Sukoharjo menambahkan, warganya yang 300-an orang nelayan, kebanyakan melaut di perairan lokal alias tidak sampai boro hingga keluar daerah.

“Salah satunya karena bulan Puasa, sehingga masih ingin selalu dekat dengan keluarga,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan