Raih Penghargaan APE, Pemkab Dapat Sorotan

Sabtu, 22 Desember 2018 | 13:01 WIB

Bupati Rembang Abdul Hafidz saat menerima penghargaan Anugrah Parahita Ekapraya 2018 tingkat Mentor dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, diberikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Menteri (PPPA) Yohana Yembise di Jakarta, Rabu (19/12/2018). (Foto: Humas Setda Rembang)

 

 

REMBANG, mataairradio.com – Prestasi Kabupaten Rembang mendapat penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) 2018 tingkat tertinggi atau Mentor dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Rabu (19/12/2018) kemarin mendapatkan sorotan dari Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Kabupaten Rembang.

Haru Irianto Sekretaris Komnas PA setempat mengapresiasi penghargaan APE yang didapat tersebut. Namun pihaknya memberi catatan penting terkait fakta-fakta di lapangan yang pihaknya temukan.

Dirinya menilai bahwa tingkat keamanan anak di Rembang belum terpenuhi sepenuhnya, ia mencontohkan beberapa waktu lalu ramai diberitakan dua orang anak asal Kecamatan Kragan diduga akan diculik oleh seseorang dan untungnya ditemukan di Sedan, walaupun ada perhiasan anak tersebut hilang. Dan sampai saat ini terduga penculiknya belum diketahui.

Adanya peredaran Narkoba di kalangan anak-anak jalanan yang sudah terbukti dan didampingi oleh Komnas PA beberapa waktu lalu. Serta kekerasan seksual yang diterima oleh beberapa anak di bawah umur dan masih bersekolah di tingkat SMP.

“Kalau kita lihat keamanan anak di lapangan cukup miris Mas, ancaman Narkoba dan kekerasan seksual,” ungkapnya.

Indikasi yang lain menurut Heru adalah Kabupaten Rembang masuk dalam rangking teratas kematian ibu dan balita diwilayah Jawa Tengah bagian timur dan sekitarnya.

Dari analisa tersebut, ada kemungkinan bahwa pernikahan dini di Rembang harus di soroti. Apakah termasuk tinggi jumlahnya atau tidak.

Saat ini Komnas PA sedang melakukan penelitian jumlah pernikahan dini di seluruh Rembang dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Apabila hasil penelitian mengungkapkan faktor ekonomi dan juga ketidakmampuan anak untuk melanjutkan sekolah maka penghargaan APE untuk Kabupaten Rembang perlu ditinjau ulang.

“Nanti hasil penelitian kami pasti akan kita rilis, saat ini masih beberapa Kecamatan kita punya datanya,” tegas pria asal Desa Tulungrejo ini.

Sementara itu Sri Wahyuni Kepala Dinsos PPKB Kabupaten Rembang mengungkapkan penghargaan APE adalah bukti bahwa di Rembang penguatan pembangunan gender di bidang ekonomi dan politik terus dilakukan.

Dalam hal ekonomi misalnya Rembang sukses mengembangkan industri rumahan yang banyak melibatkan kaum perempuan seperti Di Desa Pasar Banggi dan Tritunggal Rembang hingga jadi percontohan Nasional.

“Alhamdulillah, kita bisa memepertahankan penghargaan ini Mas,” pungkasnya.

 

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Mohammad Siroju Munir

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan