Radio Swasta Rembang Menolak Kerjasama Iklan Kampanye KPU

Senin, 23 November 2015 | 18:27 WIB
Surat Forum Komunikasi Radio Rembang kepada KPU Rembang tertanggal 6 November 2015. (Foto: mataairradio.com)

Surat Forum Komunikasi Radio Rembang kepada KPU Rembang tertanggal 6 November 2015. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Semua radio swasta di Rembang akhirnya menolak kerjasama penayangan iklan kampanye pasangan calon kepala daerah, yang disodorkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk diputar mulai 22 November hingga 5 Desember 2015.

Forum Komunikasi Radio Rembang yang beranggotakan empat radio, masing-masing MataAir Radio, R2B, Nur FM, dan Pop FM, gagal mencapai kesepakatan dengan KPU mengenai harga yang diminta.

Forum radio menghendaki agar durasi penayangan iklan dimaksimalkan sebanyak 10 kali per hari dengan harga Rp50.000 per kali tayang per setiap pasangan calon, tetapi KPU hanya bersedia 7 kali tayang per hari dengan harga Rp30.000 per tayang.

Forum Komunikasi Radio Rembang tidak membuka ruang negosiasi menyusul pernyataan salah satu komisioner KPU yang dianggap menyinggung kalangan radio.

“Tidak masalah kalau KPU tidak mengabulkan penawaran Forum Komunikasi Radio Rembang,” ujar Hadi Utomo, anggota Forum Komunikasi Radio Rembang, dari MataAir Radio.

Menurutnya, boikot radio, tidak semata rupiah, tetapi lebih dilatarbelakangi oleh harga diri insan peradioan. Pihaknya sempat membuka lebar pintu negosiasi, tetapi karena pernyataan KPU terkait kemampuan anggaran berubah-ubah, maka penawaran yang diajukannya pun menjadi maksimal.

“Apalagi KPU tidak pernah mau menunjukkan dokumen tertulis soal berapa sebenarnya anggaran iklan kampanye di media,” tegasnya.

Ketua KPU Rembang Minanus Suud sempat berharap agar kesuksesan penyelenggaraan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati tahun 2015 didukung penuh semua pihak, tak terkecuali kalangan media radio.

Ia menyebutkan, jatah iklan untuk media baik radio maupun koran totalnya sekitar Rp80 juta, tetapi rinciannya tidak disebutkan. Suud tak memberi penjelasan soal perubahan pernyataan kemampuan anggaran KPU, sehingga penawaran iklan kampanye ke media radio menjadi berubah-ubah.

Namun sebelum memberi alokasi 7 kali siar per hari dengan harga Rp3o ribu per tayang, salah seorang komisioner KPU menyatakan bahwa masih untung pihaknya memberi iklan bagi semua radio, karena bisa saja KPU memasang hanya di 1 atau 2 radio dengan 1 kali tayang per hari.

“Ini RAB (penawaran KPU yang 7 kali siar per hari dengan harga Rp30 ribu per tayang) tidak bisa berubah lagi. Soalnya sudah diminta oleh pemda,” kata Suud dalam sebuah kesempatan, baru-baru ini.

Lantaran boikot radio swasta, KPU Rembang memasang iklan kampanye pasangan calon kepala daerah hanya di radio pemerintah dan lewat dua media koran.

Suparno, salah seorang warga Tawangsari Kelurahan Leteh Kecamatan Rembang menyesalkan dan kecewa kepada KPU yang akhirnya tak pasang iklan kampanye pasangan calon di radio.

“Apalagi beberapa waktu lalu, Ketua KPU berstatemen akan segera terdengar iklan kampanye pasangan calon bupati dan wakil bupati. Tapi sampai detik ini, rakyat belum mendengar sosialisasi itu. KPU harusnya fair,” katanya.

Ketua Panwas Pilkada Rembang, Totok Suparyanto menganggap media radio efektif sebagai sarana iklan kampanye, karena mampu menjangkau hingga pelosok perdesaan.

“Saya sendiri mendengarkan radio tiap pagi untuk menambah informasi. Ini kalau 4 radio tidak menanyangkan iklan kampanye, sebaran sosialisasi menjadi terbatas. Ini ironi di tengah banyaknya sorotan kurangnya sosialisasi pilkada serentak,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan