PWI: Jangan Tunggu Pulau Gede Lenyap

Tuesday, 31 October 2017 | 17:37 WIB

Anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang saat melakukan penanaman pohon di Pulau Gede pada, Selasa (31/10/2017) pagi. (Foto : matairradio.com)

 

KALIORI, mataairradio.com – Para wartawan dari berbagai media baik cetak maupun elektronik melakukan kegiatan pengabdian berupa penanaman pohon di Pulau Gede, di wilayah Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori, Selasa (31/10/2017) pagi.

Mereka menanam tanaman jenis turus waru dan cemara laut di sekeliling pantai yang terus diancam oleh abrasi, terlebih di musim timuran seperti saat sekarang, sebagai langkah untuk melindunginya dari lenyap, sebagaimana pantai lainnya.

Tim yang berjumlah sekitar 16 orang berangkat dari Pantai Wates sekitar pukul 08.00 WIB, menumpang dua unit perahu nelayan setempat, mengarungi jarak kira-kira 3,4 kilometer, untuk menuju pulau tak berpenghuni dengan luasan dua hektaran.

Setelah aksi menanam pohon, para pewarta juga membersihkan kawasan pantai dari sampah. Selain menghimpun pula dokumentasi tentang Pulau Gede, awak media menggelar kampanye makan ikan, dengan menyantap bandeng bakar ala jurnalis.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang Jamal A Garhan mengatakan, Pulau Gede merupakan satu-satunya pulau kecil di kabupaten ini yang tersisa, dan secara luasan, terus menyusut tiap tahunnya akibat abrasi.

Penyelamatan Pulau Gede dari kepunahan, menurutnya memerlukan kerjasama banyak pihak, terutama komitmen dari Pemerintah. Pasalnya, muncul kesan bahwa pemerintah kabupaten ini abai dengan kelangsungan pulau tersebut.

“Kita berulang kali menulis berita tentang ancaman hilangnya Pulau Gede akibat abrasi. Namun peran Pemerintah masih belum terlihat. Semestinya Pemerintah tanggap dengan keadaan Pulau Gede dengan bertindak cepat,” terangnya.

PWI menilai, Pulau Gede merupakan aset wisata potensial bagi kabupaten yang tengah bersemangat membangun perekonomian masyarakatnya dari sisi kepariwisataan. Namun di sisi lain, Pulau Gede seolah dibiarkan lenyap.

“Jangan menunggu lenyap seperti Pulau Marongan dan pulau kecil lainnya yang terlebih dahulu hilang akibat abrasi. Pemerintah harus bergerak cepat. Misalnya dengan membangun talut atau penanggul gelombang,” terangnya.

Ia menyebutkan, Pulau Gede yang pada sepuluh tahun silam memiliki luas sekitar sepuluh hektare, kini tinggal tidak lebih dari dua hektare. Jika tidak ada langkah cepat penanganan, maka gelombang akan melenyapkan pulau ini.

Heri Prasetyo, Koordinator Pengelola Pantai Wates dan Pesiar Pulau Gede mengatakan, minat wisatawan berkunjung ke pulau dengan pasir putih itu, terbilang tinggi. Bahkan ia menyebut di Pulau Gede layak berdiri sebuah resor.

Namun ia mengakui, Pulau Gede terancam hilang. Pasalnya, kata dia, tiap kali musim timuran tiba, pulau yang untuk mencapainya dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari bibir Pantai Wates itu, tergerus lenyap lima meteran.

“Dari rata-rata pengunjung Pantai Wates yang kalau hari Senin-Jumat berkisar 300-an dan Sabtu-Ahad sampai lima ratusan, memiliki selera berpesiar ke Pulau Gede, entah guna keperluan kemah atau sekadar berkumpul komunitas,” katanya.

Senada dengan PWI, warga berharap agar ada penyelamatan secara massif terhadap Pulau Gede. Ia yang menemani pesiar PWI kali ini juga menunjukkan posisi Pulau Marongan yang kini telah lenyap.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil/Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan