Pungli PPP, Polisi Kumpulkan Bukti untuk Calon Tersangka Lain

Friday, 18 August 2017 | 16:01 WIB

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Ibnu Suka. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak Kepolisian Resor Rembang menyatakan masih mengumpulkan bukti-bukti untuk calon tersangka lain dalam kasus tangkap tangan terhadap pejabat di Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung pada 14 Agustus lalu.

“Penyidik masih mengumpulkan bukti-bukti untuk calon tersangka lain,” ungkap Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Rembang AKP Ibnu Suka menanggapi pertanyaan dari mataairradio.com mengenai perkembangan terkini penanganan kasus OTT itu.

Hingga Jumat (18/8/2017) siang, penyidik kepolisian telah melakukan penyitaan barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp79.550.000, kuitansi, beberapa ponsel, dan sejumlah dokumen yang terkait dengan kasus dugaan pungli oleh Kepala Seksi Kesyahbandaran.

“Tersangka sementara satu orang yakni Kepala Seksi Pelayanan dan Kesyahbandaran Agus Hari Prabowo dan telah dilakukan penahanan. Tersangka adalah seorang aparatur sipil Negara,” tandas Kasat Reskrim.

AKP Ibnu Suka juga mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil penyidikan, pungutan liar terjadi sejak ada Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia per bulan Juli 2017.

“Adapun kami sudah memeriksa sebanyak lima orang saksi yang terdiri atas dua orang dari pihak Asosiasi Nelayan Dampo Awang Bangkit dan tiga orang dari pihak pegawai di Kantor PPP Tasikagung,” bebernya.

Seperti diberitakan, modus pungutan adalah meminta pembayaran Surat Izin Berlayar dari Asosiasi Nelayan Dampo Awang Bangkit melebihi dari ketentuan Peraturan Gubernur Nomor 4 Tahun 2017 Tentang Perubahan Tarif Restribusi Daerah Provinsi Jateng.

Peraturan Gubernur tersebut mengatur bahwa untuk kapal nelayan cantrang dengan bobot mati 11 sampai dengan 30 gross ton (GT) dikenakan tarif sebesar Rp100.000 per GT. Sementara ada 90 kapal anggota asosiasi yang mengurus SIB.

90 kapal memiliki bobot bervariasi, sehingga tarif yang seharusnya dibayar, total untuk 90 kapal, sebesar Rp260 juta. Namun faktanya tersangka meminta pungutan lagi per kapal sebesar Rp759.000 kali 90 kapal atau Rp68.310.000.

Jika tidak dibayarkan, maka SIB tidak akan dikeluarkan. Dengan ancaman tersebut, maka asosiasi akhirnya mengumpulkan lagi uang. Terkumpul Rp53 juta dan langsung diserahkan kepada Agus, tapi tersangka tetap meminta kekurangan yang Rp15 juta.

Dan saat penyerahan uang sebesar Rp15 juta itu, polisi melakukan tangkap tangan terhadap tersangka.

 
Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan