Puluhan Pemuda Pertanyakan Dugaan Kekerasan Aparat Kepolisian

Selasa, 5 Januari 2016 | 14:01 WIB
Aksi unjuk rasa pemuda dan ibu-ibu dari tiga desa di Kecamatan Gunem mempertanyakan yang mereka sebut kekerasan aparat kepolisian terhadap ibu-ibu penolak tambang semen, Selasa (5/1/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

Aksi unjuk rasa pemuda dan ibu-ibu dari tiga desa di Kecamatan Gunem mempertanyakan yang mereka sebut kekerasan aparat kepolisian terhadap ibu-ibu penolak tambang semen, Selasa (5/1/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Puluhan pemuda dari Desa Tegaldowo, Timbrangan, dan Suntri Kecamatan Gunem, mendatangi Markas Kepolisian Resor Rembang, Selasa (5/1/2016) pagi.

Para pemuda dan ibu-ibu ini mempertanyakan ungkap kasus yang mereka sebut sebagai kekerasan aparat.

Supiyon, salah seorang pemuda Tegaldowo mengaku ingin tahu hukuman bagi anggota polisi yang mereka anggap melakukan kekerasan terhadap ibu-ibu penolak pabrik semen, November 2014 lalu.

“Kami ingin menanyakan apakah ada hukuman bagi anggota polisi yang melakukan kekerasan dan kami ingin tahu apa hukumannya,” ujarnya lewat siaran pers yang diterima reporter mataairradio di halaman Mapolres Rembang.

Joko Priyanto warga yang lain juga mempertanyakan penempatan polisi di pintu masuk ke arah tapak, termasuk statusnya; apakah menjaga ibu-ibu di tenda, pabrik semen, atau menjaga hutan.

“Soalnya, Mas Dedy ini ketika mau masuk ke tenda, dilarang polisi. Padahal dia (Dedy Setyo Aji) ini adalah orang tegaldowo. Sebenarnya tugas polisi di sana ngapain,” katanya.

Kasatreskrim Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono mengakui adanya aduan dari warga terkait dugaan kekerasan oleh anggota polisi. Namun dari penyelidikan dan pendalamannya, belum ditemukan cukup unsur dan bukti kekerasan.

“Dua alat bukti yang cukup belum terpenuhi, sehingga belum cukup unsur kekerasan atau penganiayaan. Memang ada aduan dugaan kekerasan oleh anggota Polri dari warga,” terangnya.

Perkembangan penyelidikan tersebut sudah dikabarkan oleh Kasatreskrim kepada warga melalui SP2HP atau surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan.

“(Ketika dipertanyakan lagi oleh warga) Ya saya tidak tahu. Itu hak mereka. Tadi sudah saya jelaskan dan mereka bisa menerima,” tandasnya.

Sementara itu, mengenai alasan penempatan polisi di pintu masuk menuju tapak pabrik, yang kebetulan juga satu jalur dengan lokasi tenda simbol penolakan sebagian warga atas pendirian pabrik semen, Kasatreskrim menegaskan itu bagian dari pengamanan.

“PT Semen Indonesia menengarai adanya kerawanan atas sikap pro dan kontra dari masyarakat terhadap pendirian pabrik semen (di wilayah Gunung Bokong, Kadiwono, Bulu). Mereka lantas meminta polisi memberikan pelayanan dan pengamanan sebagai antisipasi kerawanan,” katanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan