Pulau Jawa Disebut Hadapi Ancaman Krisis Air

Friday, 27 March 2015 | 18:20 WIB
Istigosah

KH Yahya Cholil Staquf saat memberikan Tusiyah pada Istighosah Akbar Untuk Keselamatan Pegunungan Kendeng dan Sumber Daya Alam di Indonesia dari Eksploitasi di Aula Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jumat (27/3/2015) siang. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pulau Jawa disebut sedang menghadapi ancaman krisis air seiring dengan eksploitasi sumber daya alam yang saat ini terus dilakukan secara massif.

Eko Cahyono, salah satu peneliti sumber daya alam dari Sajogyo Institute, mengungkapnya di Rembang, Jumat (27/3/2015) siang.

Menurutnya saat berbicara di sela acara istigasah untuk keselamatan Pegunungan Kendeng dan sumber daya alam di Indonesia dari eksploitasi di Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang, krisis yang dihadapi itu lantaran kebijakan yang mengabaikan hak dasar masyarakat di sekitar sumber daya alam.

“Sumber daya alam yang semestinya dinikmati banyak orang, hanya dianggap sebagai barang dagangan, sehingga seolah bebas diperjualbelikan untuk kepentingan apa saja,” katanya.

Padahal menurutnya, sumber daya alam itu merupakan cadangan hidup umat dan masyarakat, khususnya petani.

Ahmad Syatori, Koordinator Front Nahdliyin untuk Keselamatan Sumber Daya Alam menjelaskan, istigasah yang digelar siang itu merupakan ikhtiar untuk keselamatan Pegunungan Kendeng dan keselamatan alam di Indonesia.

“Hadir di kesempatan ini, beberapa simpul organisasi pecinta dan peduli lingkungan,” terangnya.

Dia pun menyatakan prihatin dengan ancaman krisis air akibat perusakan daya dukung alam yang dihadapi oleh masyarakat Pulau Jawa, terutama di Lereng Pegunungan Kendeng.

Bentuk perusakan salah satunya dengan penambangan, sehingga yang bisa dilakukan adalah terus menjaga kelestarian alam.

Paling tidak melalui istigasah ini, menurutnya, warga Rembang yang sedang memperjuangkan hak melestarikan alam, tidak lagi merasa sendirian.

Syatori menegaskan, istigasah ini merupakan bentuk penyerahan kepada Tuhan atas semua persoalan yang sedang berusaha dilalui oleh warga.

Haris Azhar, aktivis dari Kontras Jakarta mengatakan, istigasah kali ini tidak sekadar berdoa dan bersolidaritas agar semuanya menjadi lebih baik.

“Tetapi lebih dari itu, urusan sumber daya alam merupakan persoalan besar dan bersama yang menjadi persoalan bangsa,” tegasnya.

Menurutnya berdasarkan data angka yang dihimpunnya, 2/3 wilayah Indonesia diisi oleh air atau laut, sedangkan daratnya 1/3. Dari 1/3 daratan Indonesia, 60 persennya hanya dikuasai oleh kurang dari 0,5 persen penduduk negeri ini.

“Angka ketimpangan ekonomi Indonesia pun cukup tinggi, mencapai 0,4,” bebernya mengutip keterangan beberapa hasil riset.

Tokoh penting Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf menambahkan, persoalan air yang merembes dalam tanah tidak bisa diketahui secara pasti sejauh mana pengaruhnya.

“Namun para ilmuwan mengatakan, pergerakan air tanah bisa menjangkau wilayah yang sangat luas,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan