PSIR Rugi Ratusan Juta Akibat Penundaan Kompetisi

Sabtu, 25 April 2015 | 15:30 WIB
Logo PSIR Rembang

Logo PSIR Rembang

 

REMBANG, mataairradio.com – PSIR Rembang mengaku rugi ratusan juta rupiah akibat penundaan kompetisi setelah pihak kepolisian tidak mengeluarkan izin pertandingan kepada seluruh klub peserta kompetisi Divisi Utama. Izin dari kepolisian tidak diterbitkan menyusul pembekuan PSSI oleh Menpora.

Manajer PSIR Siswanto memastikan, Yoni Ustaf dan kawan-kawan batal berangkat ke Purwodadi. Sebenarnya pada Kamis (23/4/2015) malam kemarin, dia sudah mendapat kabar dari Jakarta tentang tidak akan dikeluarkan izin pertandingan dari pihak kepolisian.

“Saat itu, kami langsung berembug dengan manajemen PSIR, tetapi belum memutuskan sikap apapun. Baru setelah menerima surat dari pihak kepolisian dan mendapat kabar pembatalan pertandingan dari kubu Persipur Purwodadi, PSIR memutuskan tidak berangkat ke Grobogan, Sabtu (25/4/2015) ini,” kata dia.

Siswanto menjelaskan, kerugian ratusan juta rupiah yang ditanggung PSIR berupa biaya penyiapan tim, membayar kontrak pemain, berburu sponsor, hingga perbaikan stadion. Ia mengakui, aliran dana dari sponsor belum banyak masuk, sehingga banyak dari uang itu yang merupakan dana pribadi manajemen.

“Selain rugi secara materi, PSIR juga kecewa karena sudah terlanjur menaruh harapan besar untuk menjadikan kompetisi kali ini sebagai ajang melihat perkembangan pemain muda berbakat asli Rembang. Jika harus ditunda apalagi dihentikan, mestinya klub mendapat pemberitahuan sejak awal,” katanya.

Dia menilai kebijakan Pemerintah yang mendadak dan berubah-ubah, mempermainkan klub yang sudah susah payah berburu pendanaan. Apalagi, pada saat rapat manajer di Jakarta, Senin (20/4/2015) lalu, semua klub dan operator liga, sepakat memutar kompetisi musim ini.

Sekjen Gabungan Suporter Rembang Jarwanto mengaku kecewa dengan penundaan kompetisi Divisi Utama musim ini. Terlebih pembatalan pertandingan antara PSIR melawan Persipur Purwodadi, membuatnya harus mengurungkan segala persiapan dukungan di laga tandang.

“Kami berharap kompetisi diteruskan karena tinggal sepakbola yang bisa dijadikan hiburan oleh masyarakat. Mestinya sepakbola bebas dari kepentingan politik praktis apalagi permafiaan. Kami sepakat dengan penegakan profesionalisme di sepakbola, tetapi tidak dengan tiba-tiba menghentikan kompetisi,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan