PSIR Gelar Seleksi Pemain Lokal hingga Akhir Pekan

Kamis, 8 Februari 2018 | 17:42 WIB

Logo PSIR.

 

REMBANG, mataairradio.com – PSIR menggelar seleksi untuk para pemain lokal guna masuk dalam skuat pada kompetisi Liga 2 mendatang. Seleksi digelar selama satu pekan atau hingga Sabtu 10 Februari nanti.

Mantan Direktur Teknik PSIR Hadi Surento mengungkapkan, seleksi dilakukan secara langsung oleh Pelatih Uston Nawawi. Seleksi ini dilakukan karena Uston belum tahu betul soal seluk beluk pemain lokal.

“Kalau menurut saya seleksi pemain lokal tidak perlu dilakukan. Sebab, selama ini, saya tiap hari ketemu sehingga tahu kemampuan pemain lokal, mulai junior hingga senior. Tapi bagi Mas Uston, seleksi ini perlu,” katanya.

Rento yang pada musim kompetisi ini diproyeksi sebagai asisten untuk Uston Nawawi mengungkapkan, sebelum seleksi ini, 22 pemain lokal sudah dua bulan sempat latihan bersama. Satu minggu tiga kali latihan.

22 pemain lokal ini terdiri atas 18 pemain senior dan empat pemain junior. Sebagian besar, pernah merumput bersama PSIR, baik di musim lalu maupun musim sebelumnya. Oleh Rento, mereka disilakan seleksi.

“Namun soal pemain mana saja yang akan masuk, itu wewenang Mas Uston. Tiap pelatih, punya karakter dan strategi berbeda. Pastinya, 24 pemain tidak akan bisa masuk seluruhnya,” ujar dia.

Sementara itu, Rento yang kini mengantongi lisensi C AFC menyebut persiapan PSIR menyambut Liga 2 musim ini terlalu mepet. Idealnya, persiapan sebuah tim itu tiga bulan, sedangkan PSIR sekitar dua bulan saja.

“Sebagai solusinya, saran saya gunakan banyak pemain lokal, karena mereka sudah siap dan gampang padu. Jika tidak begitu, maka masa persiapan akan tersita untuk seleksi, negosiasi, dan pendaftaran pemain ke PSSI,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan