Produsen Kerupuk Waru Sulit Kembangkan Pasar Akibat Krisis Modal

Sabtu, 26 Juli 2014 | 15:03 WIB

pabrik-krupuk

REMBANG, MataAiRadio.net – Para produsen kerupuk di Desa Waru Kecamatan Rembang mengaku kesulitan mengembangkan pemasaran produk akibat krisis modal yang mereka alami. Padahal, mereka mampu menghidupi ratusan warga desa setempat karena diserap sebagai tenaga kerja.

Muzayanah, salah seorang produsen kerupuk bawang di Desa Waru mengaku mendapat banyak pesanan dari berbagai daerah, seperti Sumber dan Kaliori. Dia pun mengaku kerap kewalahan melayani permintaan karena keterbatasan tenaga kerja yang hanya tiga orang.

Perempuan yang sudah 25 tahun menggeluti usaha produksi kerupuk ini memiliki niat untuk menambah jumlah pekerja. Namun biaya modal guna membeli peralatan pendukung produksi, belum dimiliki karena harganya mencapai Rp11 juta. Untuk sementara, dia hanya melayani pasar yang sudah ada.

Sumadi, produsen kerupuk jenis lain di desa ini juga menyatakan, belum sekalipun menerima bantuan modal dari Pemerintah, sejak usahanya berdiri 20 tahun silam. Sebagaimana Muzayanah, Sumadi sekadar mengandalkan proses bisnis yang ditekuninya.

Saat ini, dia melayani pasar di Rembang, Blora, dan Pati. Secara jumlah pekerja pun, Sumadi masih bertahan dengan 16 orang. Padahal diakuinya, order dari luar daerah melimpah, namun tidak langsung bisa dipenuhi karena terbentur modal. Dia berharap Pemerintah mau peduli mendukung usaha mereka.

Sumadi mengaku melahap setengah ton bahan baku setiap hari untuk memproduksi kerupuk jenis bandung. Namun saat bulan Puasa, dari bahan baku yang dibeli, hanya sekitar dua kuintal yang bisa diubah menjadi kerupuk dan menghasilkan uang. Menjelang lebaran, dia sudah memiliki stok untuk dua hari.

Penjabat Kepala Desa Waru Maryono mengaku pernah membantu para perajin kerupuk di daerahnya untuk mengakses bantuan modal dengan meneken naskah usulan alias proposal. Hanya saja, soal cair atau tidaknya, dia mengaku tidak mengetahuinya.

Di desanya saat ini, masih ada enam pabrik kerupuk berskala kecil dengan jumlah karyawan masing-masing 16-20 orang. Belum ditambah perajin kerupuk skala mikro. Dari 5.312 jiwa penduduk Desa Waru, sekitar 10 persennya terlibat dalam usaha perkerupukan. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan