PRK Minta PLN Putus Sementara Setrum Ke Tanjung Bonang

Jumat, 14 November 2014 | 16:49 WIB
Kapal tongkang sedang memuat material tambang di kawasan Pelabuhan Tanjung Bonang, akhir Oktober 2014. (Foto: Pujianto)

Kapal tongkang sedang memuat material tambang di kawasan Pelabuhan Tanjung Bonang, akhir Oktober 2014. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – PT Pelabuhan Rembang Kencana (PRK) selaku otoritas pengelola Pelabuhan Tanjung Bonang meminta kepada PT PLN (Persero) agar memutus sementara setrum atau aliran listrik ke pelabuhan yang berada di wilayah Desa Sedangmulyo Kecamatan Sluke itu.

Permintaan anak perusahaan PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ) yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Rembang tersebut diungkap oleh Manajer PT PLN (Persero) Rayon Rembang, Jarmuji, Jumat (14/11/2014) pagi.

Menurutnya, pemutusan sementara aliran listrik ke Pelabuhan Tanjung Bonang ini dengan alasan yang berhubungan dengan kendala operasional pelabuhan yang dikelola PT Pelabuhan Rembang Kencana.

“Pihak PRK yang minta. Alasannya, sehubungan kendala operasional di areal pelabuhan yang dikelola PRK. Kita berkewajiban mengabulkan permintaan ini karena pemohon dan rekeningnya sudah sesuai,” ungkap Jarmuji.

Permintaan dari PRK itu dipenuhi, juga setelah tagihan penggunaan listrik sebesar Rp17 juta, sudah dibayar secara lunas pada 11 November 2014. Jarmuji menyatakan, permohonan pemutusan sementara ini semestinya diajukan per tanggal 10 November.

“Kita lakukan pemutusan setelah tagihan yang timbul atas pemakaian listrik sebelumnya, dibayar lunas. Sekitar Rp17 juta. Sudah dibayar per 11 November kemarin. Permohonan pemutusan sementaranya sih tanggal 10 November. Kita putus setelah ada pembayaran,” terangnya.

Jarmuji menjelaskan, menurut ketentuan di perusahaannya, pemutusan sementara berlaku maksimal enam bulan. Diterangkannya, paling lambat dua atau satu minggu sebelum akhir masa enam bulan, perusahaan wajib memberikan konfirmasi ulang, disambung kembali atau diputus secara total.

“Kalau di PLN batasannya enam bulan. Namun seminggu atau dua minggu sebelum akhir dari enam bulan itu, perusahaan harus melaporkan akan dilanjut atau tidak,” tandasnya.

Manajer PLN Rayon Rembang menyebutkan, konsumsi listrik di Pelabuhan Tanjung Bonang sebesar 11.000 Volt Ampere (VA). Akibat pemutusan setrum untuk sementara ini, kondisi pelabuhan akan gelap pada malam hari. Jembatan timbang di pelabuhan pun menjadi tidak beroperasi.

“Itu listriknya 11.000 VA. Pemakaiannya secara persis, saya nggak tahu. Sekilas informasinya sih untuk penerangan dan timbangan,” katanya.

Jarmuji memastikan, permintaan PRK untuk memutus sementara aliran listrik ke Tanjung Bonang bersifat resmi, karena disertai surat resmi dengan kop dan stempel perusahaan. Surat tersebut juga ditandatangani langsung oleh Direktur Utama PT Pelabuhan Rembang Kencana, Prahara Firdausi.

“Ini permintaan resmi. Surat resmi ada kopnya dan stempel. Yang tanda tangan Direktur Utama PT Pelabuhan Rembang Kencana Prahara Firdausi. Efek konsumsi listrik di Rembang timur, nggak begitu pengaruh. 11.000 VA kan belum terlalu besar,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan