Puluhan Anggota Pramuka Jatuh Pingsan saat Upacara

Kamis, 14 Agustus 2014 | 15:01 WIB
Anggota pramuka yang jatuh pingsan saat mengikuti upacara peringatan Hari Pramuka di Alun-Alun Rembang, Kamis (14/8) pagi. (Foto:Pujianto)

Anggota pramuka yang jatuh pingsan saat mengikuti upacara peringatan Hari Pramuka di Alun-Alun Rembang, Kamis (14/8) pagi. (Foto:Pujianto)

REMBANG, MataAirRadio.net – Sedikitnya 30 orang anggota pramuka jatuh pingsan saat mengikuti upacara peringatan Hari Pramuka di Alun-Alun Rembang, Kamis (14/8) pagi. Petugas kesehatan dan pendamping mereka sempat kewalahan menangani, karena tikar atau matras untuk menampung anggota pramuka ini terbatas.

Mayoritas anggota pramuka yang pingsan adalah perempuan. Sinar matahari yang terik, ditambah belum sempat sarapan menjadi pemicu pingsan. Namun tidak ada yang sampai serius, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Mereka hanya mengalami dehidrasi ringan.

Insiden jatuh pingsan mulai terjadi ketika upacara memasuki pengibaran bendera merah putih. Saat memberikan penghormatan bendera, beberapa peserta jatuh pingsan. Insiden ini berlanjut hingga pembacaan amanat Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka oleh Plt Bupati Abdul Hafidz.

Dwi Nur Arisatul Arifa, anggota pramuka dari SMK Al Mubarok Rembang mengaku sudah sarapan, namun pagi itu dianggap sangat terik. Dia merasakan pusing dan mual sebelum kemudian jatuh pingsan dan digotong ke tepi lapangan alun-alun untuk mendapat pertolongan.

Sri Harjati, salah satu petugas kesehatan dari Puskesmas Rembang II yang menangani anggota pramuka pingsan mengakui sempat kewalahan. Menurutnya, jumlah peserta upacara yang jatuh pingsan tidak sebanyak ketika dirinya bertugas yang sama, dua tahun lalu.

Apalagi setelah alun-alun ditata, belum ada pohon peneduh yang memadai untuk mengevakuasi sementara mereka yang jatuh pingsan. Jumlah tikar untuk menampung peserta yang pingsan pun, diakuinya sangat terbatas, sehingga harus berdesak-desakan. Namun dia bersyukur tidak sampai ada yang parah.

Untuk menangani mereka yang pingsan, menurut Harjati, dia harus mengendorkan terlebih dahulu seragam pramuka yang dikenakan peserta. Tujuannya agar hawa segar bisa segera dirasakan. Setelah sadar, peserta segera diberikan minum untuk meredam dehidrasi yang dialami.

Sementara itu, Plt Bupati Abdul Hafidz yang membacakan sambutan Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Adyaksa Dault menyebut gerakan pramuka masih relevan dengan perkembangan zaman. Gerakan pramuka juga dianggap bisa menjadi sarana menghadapi dua tantangan besar kaum muda belakangan ini.

Persoalan sosial seperti narkoba dan seks pranikah serta persoalan kebangsaan seperti rendahnya solidaritas kebangsaan dan bela negara, diharapkan bisa dihadapi dengan peningkatan aktivitas di gerakan pramuka. Kepramukaaan kini telah menjadi ekstrakurikuler wajib di tiap sekolah, sejak Kurikulum 2013 berlaku bulan Juli 2014. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan