Polisi dan Tentara Gagalkan Transaksi Pupuk Ilegal

Selasa, 10 Maret 2015 | 17:54 WIB
Barang bukti transaksi pupuk ilegal di halaman Mapolsek Gunem, Selasa (10/3/2015) pagi. (Foto: mataairradio.com)

Barang bukti transaksi pupuk ilegal di halaman Mapolsek Gunem, Selasa (10/3/2015) pagi. (Foto: mataairradio.com)

 

GUNEM, mataairradio.com – Polisi dan tentara berhasil menggagalkan transaksi pupuk bersubsidi jenis amoniak sulfat dan organik yang dikirimkan dari wilayah Kecamatan Gunem ke Kecamatan Pamotan, Selasa (10/3/2015) pagi.

40 sak pupuk amoniak sulfat atau ZA dan 20 sak pupuk organik ini diambil dari Kelompok Tani Mohon Tirto Desa Sidomulyo Kecamatan Gunem.

Ketua kelompok tani itu adalah Sutarman, seorang kepala dusun di Sidomulyo.

Puluhan sak pupuk ini diangkut dengan menggunakan truk engkel K 1609 KD, hendak dibawa ke kediaman Mundofir, warga Mlagen Kecamatan Pamotan.

Komandan Koramil Gunem Kapten Ngadirin membeberkan, dua anggota tentara dan satu polisi menghentikan truk itu di wilayah dekat Mlagen.

Sopir truk bernama Mujahit (40) serta kenek truk bernama Maskat (30) dan Widuwi (35), yang semuanya warga Mlagen-Pamotan, diamankan di Mapolsek Gunem.

“Semua diamankan di Mapolsek Gunem. Truk engkelnya juga, katanya.

Mereka diamankan karena tidak bisa menunjukkan dokumen sah pengiriman pupuk bersubsidi tersebut.

Informasi yang dihimpun, amoniak sulfat dan organik bersubsidi ini hendak dipakai oleh Mundofir untuk memupuk tanaman tebu.

Padahal pupuk di Gunem, tidak boleh beredar di lain kecamatan.

“Penangkapan ini murni karena adanya laporan masyarakat,” tandasnya.

Menurut Kapten Ngadirin, polisi sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan apakah transaksi secara ilegal itu sudah sering dilakukan atau baru kali ini.

“Yang jelas, saat dilakukan penangkapan, pupuk itu sudah berpindah ke lain daerah,” tandasnya.

Kepala Desa Sidomulyo Kilwiyanto membenarkan Kelompok Tani Mohon Tirto berada di daerahnya.

“Ketuanya memang Sutarman. Kepala dusun. Di desa kami, ada lima kelompok tani yang semuanya aktif,” ungkapnya.

Dia memilih bungkam ketika ditanya soal apakah transaksi semacam itu sudah lama terjadi.

Kilwiyanto hanya menyebut, anggota Kelompok Tani Mohon Tirto beranggotakan sekitar 80 orang dengan luasan lahan lebih dari 50 hektare.

“Kalau masa pemupukan sudah lewat. Kini mulai bersiap untuk persediaan musim tanam kedua,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan