Pohon “Sakit” Disebut Jadi Biang Kegagalan Adipura

Jumat, 30 Oktober 2015 | 17:52 WIB
Reklame yang turut dilepas dari pohon penghijauan karena dipaku langsung di tanaman, Jumat (30/10/2015) siang. (Foto: Pujianto)

Reklame yang turut dilepas dari pohon penghijauan karena dipaku langsung di tanaman, Jumat (30/10/2015) siang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Rembang menyebut aksi pemasangan reklame dengan cara memakunya secara langsung di pohon penghijauan, sebagai salah satu biang kegagalan daerah ini merengkuh penghargaan Adipura 2015.

Kepala BLH Rembang Purwadi Samsi mengatakan, hampir semua pohon penghijauan di tepi jalan utama kota ini, terdapat reklame yang dipaku langsung ke tanaman. Padahal menurutnya, pohon dilarang dipaku agar tidak membuat sakit atau menganggu pertumbuhan.

Apalagi di peraturan bupati, telah jelas diatur, pemasangan reklame tak boleh dipaku langsung ke pohon. Jika pun dipasangi reklame, mestinya ditalikan saja dan itu pun wajib dibersihkan ketika izin masa edarnya sudah habis.

“Iya jelas (membuat gagal meraih Adipura). Itu reklame dipaku nggak boleh. Di perbup sudah diatur. Dikawat saja. Jika pohon luka, nanti bisa sakit. Terganggu pertumbuhannya,” katanya.

Jumat (30/10/2015) pagi, BLH memprakarsai aksi cabut paku dari pohon, di sepanjang jalan utama Kota Rembang. Dimulainya dari Jalan Pemuda lalu bergeser ke Jalan Soetomo dan Wahidin serta Jalan Pantura Kota Rembang. Aksi ini menurut Purwadi akan berlanjut sampai lima hari.

Dia menjelaskan, kegiatan semacam itu tidak menganggu kinerja SKPD-nya karena saat sekarang masih terbilang vakum dari kegiatan penting. Ia juga mengimbau kepada satuan kerja perangkat daerah dan kelurahan agar turut serta memelihara pohon penghijauannya.

Dalam hal pembersihan pohon dari paku yang menancap, Purwadi mengaku berkoordinasi dengan Satpol PP dan DPPKAD sebelum melakukan penertiban. Dengan Satpol PP terkait penertiban reklame, sedangkan dengan DPPKAD terkait izin dari reklame yang ditertibkan.

“Kita mengimbau kepada SKPD dan kelurahan juga sekitarnya agar ikut memelihara pohon penghijauan. Kita didampingi Satpol dan DPPKAD untuk penertiban. Yang gambar pasangan calon kepala daerah itu, nanti (pakunya) biar dari KPU dan Satpol yang membersihkan,” katanya.

Salah satu PNS di lingkungan BLH Rembang, Sunarno menyebutkan, sejak pagi hingga siang pada Jumat (30/10/2015) itu, pihaknya berhasil mencabut tujuh kilogram paku.

“Paku yang terkumpul, ditimbang, kemudian dijual dan hasilnya disumbangkan ke panti asuhan,” katanya.

Sementara, reklame hasil penertiban karena dipaku di pohon dan tampak kedaluwarsa, diamankannya ke markas Satpol PP guna dimusnahkan atau dibuang ke tempat sampah.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan