Ribuan Meter Plastik Geomembran Dianggurkan Petani Garam Rembang

Sabtu, 13 Desember 2014 | 18:53 WIB
Petani garam di Kabupaten Rembang. (Foto:Rif)

Petani garam di Kabupaten Rembang. (Foto:Rif)

 
KALIORI, mataairradio.com – Ribuan meter plastik jenis LDPE untuk teknologi pembuatan garam dengan media geomembran, ternyata dianggurkan oleh begitu saja oleh sejumlah petani di Kabupaten Rembang. Mereka tidak menggelarnya di tambak karena berbagai hal.

Sutono, petani garam di Desa Tambakagung Kecamatan Kaliori menjelaskan, pengedropan geomembran ke tingkat petani terbilang terlambat. Plastik itu baru diterima petani pada bulan September, sedangkan penataan lahan tambak garam, sudah dilakukan pada bulan Juli.

“Akibatnya, plastik seluas 400 meter persegi yang diterima oleh masing-masing petani penerima program Pugar 2014, tidak banyak tergelar. Kalaupun ada, jumlahnya tak banyak atau lebih memilih membiarkan tergulung di rumah,” ungkapnya.

Sutono sendiri mengaku masih akan menggunakan geomembran di tahun depan. Pada musim produksi garam kemarin, selain menggunakan geomembran jatahnya sendiri, dia juga memanfaatkan plastik milik saudaranya yang tidak dipakai.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Program Pugar 2014 Rembang Nurida Andante Islami tidak mengingkari adanya petani penerima bantuan yang memilih menganggurkan plastik LDPE untuk pembuatan garam bermedia geomembran.

“Kami memahami, karena jatah plastik yang diterima hanya berukuran masing-masing 2×200 meter persegi, sementara petakan lahan tambak yang kadung ditata, memiliki luas yang lebih dari itu. Dampaknya, begitu plastik digelar, masih banyak sisa lahan yang tidak tertutup plastik,” katanya.

Bagi petani, kenyataan yang demikian, dianggap tidak menguntungkan. Namun Dante mengingatkan, agar plastik LDPE yang sudah terlanjur dibeli dengan dana Pemerintah, dipakai pada tahun depan.

“Apalagi harga garam yang diproduksi dengan geomembran memiliki harga yang lebih mahal dari garam yang dibuat dengan mejanan tanah biasa. Selisih bisa lebih dari Rp100 per kilogram. Catatan rata-rata kami Rp550 (untuk garam geomembran) berbanding Rp330 (untuk garam tanah biasa),” tandasnya.

Sementara itu, berdasarkan data di Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang, total produksi garam sepanjang 2014, terhitung sejak Juli hingga November, mencapai 134.940 ton.

Jumlah tersebut terdiri atas masing-masing 83.813 ton dari petani binaan Pugar sejak 2011 dan 51.127 ton dari petani penerima Pugar 2014. Khusus untuk garam yang diproduksi dengan teknologi geomembran, jumlahnya mencapai 2.932 ton yang merupakan hasil dari 20,2 hektare lahan tambak.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan