PGRI Ogah Orbitkan Calon Perseorangan di Pilkada

Selasa, 24 Februari 2015 | 17:19 WIB

pgri

 

REMBANG, mataairradio.com – Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGRI) Rembang ogah mengorbitkan kadernya untuk maju lewat jalur perseorangan di Pilkada, Desember mendatang.

PGRI ingin netral agar organisasi tersebut tidak terkotak-kotak sebagaimana pada Pilkada 2010.

Ketua PGRI Rembang Jumanto saat dihubungi mataairradio mengaku banyak ditanya oleh beberapa pihak terkait sikap organisasi ini pada pemilihan umum kepala daerah.

“Banyak yang tanya (sikap PGRI di Pilkada). Tetapi saya jawab, PGRI hanya akan terlibat sebagai pemilih di Pilkada, tetapi tidak aktif dalam aksi dukung-mendukung calon tertentu,” bebernya.

Pihaknya juga tak mau berpihak ke kubu manapun. Ditanya apakah kapok karena calon bupati dari PGRI gagal di Pilkada 2010? Jumanto membantahnya.

“Nggak (kapok). Itu sebagai pembelajaran saja. Sebenarnya, jika ada kader yang matang, memang bisa saja ada yang dicalonkan. Namun kini belum ada,” katanya.

Menurutnya, sebagai organisasi profesi yang memiliki kekuatan massa cukup besar, PGRI memang potensial.

“Namun hingga Selasa (24/2/2015) ini belum ada pihak yang mencoba mengganggu PGRI atau setidaknya berkomunikasi terkait Pilkada,” katanya.

Jumanto menegaskan, PGRI tidak akan memunculkan calon bupati ataupun calon wakil bupati.

Penegasan itu juga disampaikannya pada saat pelaksanaan konferensi cabang PGRI di setiap kecamatan. Intinya PGRI netral dalam politik praktis.

“Pada saat saya dicalonkan sebagai Ketua PGRI, saya meminta syarat organisasi itu netral dalam berpolitik, sebelum menyatakan bersedia,” tandasnya.

Dia menepis suara dari para anggota mengenai kemungkinan PGRI melambungkan calon sendiri atau mendukung calon tertentu.

Pada Pilkada 2010 lalu, Ketua PGRI Rembang Mulyono yang berpasangan dengan Imam Baehaqi maju sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati.

Saat itu, pasangan yang diklaim didukung penuh PGRI, meraup 13.926 suara atau sekitar 4,17 persen dari total pemilih 458.795 orang.

Pasangan ini pun hanya berada di posisi keempat dari lima pasangan calon yang bertarung ketika itu.

Mulyono dan Baihaqi mengumpulkan suara terbanyak di Kecamatan Sedan dengan 2.427, sedangkan di Kecamatan Sale hanya 309 suara alias yang paling rendah perolehannya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan