Petir Sambar 2 Sapi Petani di Punjulharjo

Jumat, 4 Maret 2016 | 18:10 WIB
Emperan kandang sapi milik Karno, Jumat (4/3/2016) pagi. Dua ekor sapi miliknya yang ditempatkan di emperan itu mati disambar petir, Kamis (3/3/2016) sore kemarin sekitar pukul 16.00 WIB. (Foto: Pujianto)

Emperan kandang sapi milik Karno, Jumat (4/3/2016) pagi. Dua ekor sapi miliknya yang ditempatkan di emperan itu mati disambar petir, Kamis (3/3/2016) sore kemarin sekitar pukul 16.00 WIB. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Kilatan petir yang mengiringi hujan deras di Desa Punjulharjo Kecamatan Rembang menyambar 2 ekor sapi sampai mati milik Karno warga di RT 2 RW 4 Dukuh Kiringan, Kamis (3/3/2016) sore kemarin sekitar pukul 16.00 WIB.

Umbarwati, istri Karno menuturkan, 2 ekor sapinya berada di bawah emperan kandang di luar rumah, sisi timur belakang. Saat petir berkilatan dan ternyata menyambar sapinya, ia mengaku sedang wiridan di ruang tengah rumah.

“Saya baru tahu kalau sapinya tersambar petir setelah dikabari tetangga samping timur rumah ini,” tuturnya kepada reporter mataairradio.

Seketika dirinya kaget karena 2 ekor sapi seharga kurang lebih Rp25 juta itu rencananya akan dijual untuk memperbaiki rumahnya yang sudah lapuk di beberapa bagian.

“Kaget banget. Saya ini kan kalau ada kilat-kilat petir begitu, takut. Ini rencananya (sapi dijual) untuk memperbaiki rumah yang sudah lapuk,” ujar Umbarwati sambil menunjuk bagian atap rumahnya.

Karno mengakui, saat kejadian, dirinya sedang menemani sang istri wiridan. Ia mengaku sedang dalam pemulihan dari sakit.

“Saya juga kaget. Apalagi saya sedang dalam pemulihan dari sakit. Hawa dari panas petir itu terasa sampai ruang tengah rumah ini,” katanya.

Ia menyebutkan, begitu diberi tahu tetangga dan menengok emperan kandang, 1 sapinya sudah mati, sedangkan 1 sapinya yang lain masih sekarat, sebelum akhirnya menyusul mati.

Ia menguatkan keterangan istrinya soal rencana menjual 2 sapi itu untuk memperbaiki rumah. Karno pun membenarkan, harga 2 ekor sapi betina produktif miliknya itu bernilai sekitar Rp25 juta.

“Sudah saya kubur di utara sana tadi malam (3/3/2016). Diangkut pakai pikap tetangga itu karena di sini nggak ada tempat buat ngubur,” terangnya Jumat (4/3/2016) pagi.

Karno berharap bantuan dari Pemerintah atas musibah kematian 2 ekor sapinya. Sampai dengan Jumat (4/3/2016) siang, pihak desa belum tampak datang menyampaikan empati kepada keluarga Karno.

“Ini kok kebangetan tidak ada perangkat atau kepala desa yang nengok-nengok sini. Harapannya sih bisa dibantu begitu,” imbuhnya.

Kepala Seksi Kedaruratan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang Pramujo mengaku sempat belum menerima laporan soal musibah tersebut. Namun setidaknya, pihaknya akan melakukan tinjauan ke lapangan.

“Coba saya cek nanti. Saya malah baru dapat informasi ini,” ujarnya ketika dikonfirmasi reporter mataairradio.

Soal kemungkinan bantuan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kepala Pelaksana BPBD Rembang Suharso dan dijawab tidak mungkin.

“Korban jiwanya tidak manusia. Kalau pun manusia, paling banter, bantuan kami hanya sembako atau perlengkapan keluarga. Prosedurnya gitu,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan