Petani Tebu Rembang Ogah Giling di Blora

Sunday, 15 June 2014 | 16:34 WIB
Truk pengangkut tebu di Rembang.

Truk pengangkut tebu di Rembang.

REMBANG, MataAirRadio.net – Para petani tebu di Kabupaten Rembang menyatakan ogah menjual atau menggilingkan komoditasnya ke PG Gendis Multi Manis di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Padahal petani sudah diberi kesempatan masuk ke pabrik gula anyar tersebut.

Menurut Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat Konco Tani Rembang Maryono, salah satu penyebab keengganan adalah persoalan teknis. Dia mengaku sempat datang ke pihak perusahaan untuk mengonfirmasi perlakuan terhadap petani tebu dari Rembang untuk masuk ke pabrik.

Dari hasil konfirmasi itu terungkap bahwa teknis rencana penurunan tebu dari truk pengangkut, akan menggunakan cane tipler. Cara ini oleh petani dianggap susah dan berpotensi merugikan. Sebab, jika menggunakan cane tipler, maka truk akan didongakkan agak naik bagian depan.

Meski roda-roda truk terlebih dahulu disegel, petani khawatir cara itu bisa mengakibatkan kendaraan terbalik ke belakang dan menimbulkan kerugian. Belum lagi, pihak perusahaan meminta tidak adanya baja model huruf u untuk pelindung bak.

Selain persoalan teknis menyangkut bongkar muatan, keengganan petani untuk menggilingkan tebu ke PG GMM, karena adanya perbedaan perlakuan menyangkut harga. Perusahaan membedakan harga beli untuk petani Blora dan Rembang.

Menurut Maryono, tebu petani Blora dihargai Rp500 per kilogram, sedangkan tebu petani Rembang dihargai maksimal Rp475 per kilogram. Harga itu berlaku untuk rendemen delapan atau dengan harga lelang gula Rp9.000 per kilogram.

Maryono menyebut harga dari GMM tersebut lebih mahal dari pembelian PG Trangkil, Pakis, maupun Rendeng-Kudus. Sebab harga dari PG yang lain hanya Rp380 per kilogram tebu. Namun harga itu masih wacana, karena giling belum dilakukan, meski pabrik telah beroperasi.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Suratmin menyebutkan, dari 8.641 hektare total luasan tebu di kabupaten ini, 6.586 hektare di antaranya, sudah dimitrakan dengan tiga pabrik, baik di Trangkil dan Pakis-Pati, maupun Rendeng-Kudus.

Masih ada 2.055 hektare lahan tebu petani mandiri. Biasanya memang untuk gula tumbu, namun bisa saja dialokasikan ke PT GMM. Namun petani diminta mengalkulasi sendiri, untung atau ruginya. (Pujianto)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan