Petani Tebu Rembang Mulai Tekuni Kreasi Gula Merah

Rabu, 2 Juli 2014 | 16:34 WIB
Petani Tebu Rembang. (Foto:Puji)

Petani Tebu Rembang. (Foto:Puji)

SULANG, MataAirRadio.net – Petani tebu di Kabupaten Rembang mulai menekuni kreasi gula merah seiring rendahnya harga lelang gula dan rendemen tebu di pabrik. Harga lelang gula hanya Rp8.580 per kilogram, sedangkan rendemennya hanya di angka 6,5.

Ketua Koperasi Tebu Rakyat Konco Tani Rembang Maryono mengakui, petani sempat tak percaya dengan rendahnya rendemen tebu di musim giling kali ini. Sebab, tahun lalu dengan fisik dan kebersihan tebu yang sama, rendemen bisa mencapai tujuh bahkan delapan.

Menurutnya, harga lelang gula yang Rp8.580 per kilogram akan tidak meresahkan, jika rendemen tebu mencapai delapan. Pilihan untuk beralih produksi ke gula merah turut didorong oleh rendemen di sektor tradisional yang mencapai sembilan.

Maryono juga menjelaskan, kreasi produksi gula merah dilakukan dengan mengubah produk. Jika sebelumnya, petani hanya membuat gula merah dalam bentuk curah di dalam keranjang, maka tahun ini, akan diubah ke bentuk tepung halus. Segmen pasarnya juga berubah dari pasar tradisional ke modern.

Ide ini diakui Maryono diperoleh dari para petani di wilayah Klaten, Jawa Tengah. Selain gula merah dalam bentuk tepung, para petani tebu di Kabupaten Rembang juga sedang menjajaki gula merah herbal atau gula merah yang telah diramu dengan bahan tradisional.

Dari sisi harga; gula merah dalam bentuk tepung bisa mencapai Rp11.000, sedangkan gula merah yang diramu dengan tambahan bahan tradisional, dapat mencapai Rp22.000 per kilogram. Menurut Maryono, yang masih perlu dilakukan adalah memperbanyak studi banding.

Berdasarkan data yang dihimpun MataAir Radio, keluhan petani mengenai rendahnya rendemen dan harga lelang gula juga dirasakan petani di Jember, Jawa Timur. Di daerah itu, sebagian petani tebu malah sudah banting setir mengembangkan komoditas lain, yakni jeruk. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan