Petani Tanam Jagung di Embung Kering Rawasetro

Senin, 10 Agustus 2015 | 17:41 WIB
Petani dari Dusun Jambangan Desa Padaran Kecamatan Rembang memanfaatkan permukaan lahan Embung Rawasetro yang mengering untuk ditanami jagung. (Foto Pujianto)

Petani dari Dusun Jambangan Desa Padaran Kecamatan Rembang memanfaatkan permukaan lahan Embung Rawasetro yang mengering untuk ditanami jagung. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Sejumlah petani menanam jagung pada permukaan Embung Rawasetro di wilayah Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang yang kini mengering akibat kemarau. Tetapi tanaman jagung itu lebih diinginkan untuk pakan sapi daripada dikonsumsi manusia.

Samsuri, petani asal Jambangan Desa Padaran kecamatan setempat mengatakan, jagung yang ditanamnya sudah berumur seminggu. Dia menanami embung yang mengering, sekadar ingin memanfaatkan lahan yang menganggur. Dia membeli sekilo bibit jagung seharga Rp50 ribu untuk ditanam di lahan embung.

“Nggak tahu, apakah jagung ini akan tumbuh subur atau tidak. Saya usaha saja. Setidaknya, kalau tidak bisa dipanen, bisa untuk pakan sapi,” ujarnya.

Muhasim, warga lainnya dari Desa Padaran mengaku baru kali ini menanami permukaan Embung Rawasetro yang mengering. Sebelum-sebelumnya dia tak pernah memanfaatkan embung yang kering untuk ditanami. Dia menyatakan akan menanami lahan yang baru dicangkulinya itu dengan jagung.

Dia juga mengaku tidak izin kepada pihak tertentu, misalnya Bidang Sumber Daya Air DPU Rembang, dengan dalih hanya memanfaatkan lahan kering saja. Jika pun tiba-tiba hujan mengguyur hingga debit embung naik dan merendam jagung, dia tidak menyoalnya karena itung-itung sebagai pakan ternak.

“Kalau nantinya terendam, ya nggak apa-apa. Ini juga saya baru sekali ini memanfaatkan (lahan embung yang kering dicangkuli untuk ditanami, red.),” kata dia.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang Suratmin mengatakan, tidak masalah jika petani memanfaatkan permukaan lahan embung yang mengering untuk ditanami jagung.

“Aktivitas petani itu tidak akan sampai berdampak pada pendangkalan embung,” tandasnya.

Dia menjelaskan, akan berbeda halnya jika bagian tanggung yang ditanami ketela atau sejenisnya. Untuk yang seperti itu, ia menyarankan untuk koordinasi dengan DPU Rembang.

“Pemanfaatan lahan kering itu justru bisa jadi upaya mengatasi dampak kekeringan terhadap ternak,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan