Petani Rembang Minta Urungkan Impor Bawang Merah

Sabtu, 6 Juni 2015 | 16:52 WIB
Seorang petani bawang merah di Dusun Tempel Desa Tlogotunggal Kecamatan Sumber menyemprotkan air ke lahan tanamannya, Sabtu (6/6/2015) pagi. Mereka berharap Pemerintah tidak mengimpor bawang merah, agar harga komoditas itu tak terjun bebas. (Foto: Pujianto)

Seorang petani bawang merah di Dusun Tempel Desa Tlogotunggal Kecamatan Sumber menyemprotkan air ke lahan tanamannya, Sabtu (6/6/2015) pagi. Mereka berharap Pemerintah tidak mengimpor bawang merah, agar harga komoditas itu tak terjun bebas. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Para petani di Kabupaten Rembang meminta kepada Pemerintah untuk mengurungkan rencana impor bawang merah.

Mereka khawatir kebijakan impor akan merugikan petani, yang telah bersusah payah menanam komoditas itu.

Lamijan, seorang petani bawang merah di Dusun Tempel Desa Tlogotunggal Kecamatan Sumber menganggap, jika keran impor dibuka Pemerintah, maka harga komoditas itu hampir pasti akan langsung anjlok.

“Sementara, saat sekarang banyak petani yang belum panen,” katanya kepada mataairradio.

Tanaman bawang merahnya saja, diperkirakan baru akan bisa dipanen pada pertengahan bulan Puasa. Jika keduluan impor, dirinya akan rugi besar karena harga akan turun drastis.

“Saat ini harga bawang merah di pasaran lokal masih Rp35.000 per kilogram. Kalau impor, harganya pasti turun. Kami jadi rugi,” tandasnya.

Lonjakan harga bawah merah di pasaran diyakini bukan karena faktor suplai. Apalagi, sejak beberapa bulan terakhir, harga di tingkat petani stabil di angka Rp20.000 per kilogram.

Menurut petani, kenaikan harga yang signifikan menjadi Rp35.000 itu, jangan dijadikan celah untuk memasukkan barang impor.

Apalagi Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan sudah memberikan sinyal untuk membuka keran impor.

Petani yakin lonjakan harga bawang merah bersifat sementara karena permintaan masyarakat naik tajam, menjelang Ramadhan.

Lamijan menambahkan, alasan petani meminta penghapusan impor bawang merah, juga karena perjuangan mereka yang susah payah untuk panen.

“Saat ini, kami sedang terus mengusahakan air agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu karena kemarau,” imbuhnya.

Pamuji, buruh petani bawang merah asal Desa Karangsari Kecamatan Sulang juga berharap agar harga komoditas itu tidak anjlok karena masuknya barang impor.

“Jika pun saat sekarang harga bawang merah sedang tinggi, itu tidak akan berlangsung lama,” katanya.

Sebab, bawang merah sedang akan memasuki panen raya. Tanpa harus impor, petani pun akan sadar diri kalau harga bawang merah akan perlahan turun.

“Petani yang menanam bawang merah, rata-rata akan panen pada Juli atau Agustus mendatang. Biasanya kalau panen raya, harga turun. Jadi tidak perlu impor,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan