Petani Rembang Desak Pemerintah Urungkan Impor Garam

Thursday, 3 August 2017 | 15:28 WIB

Petani garam di Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori mulai melakukan produksi garam tahun 2017. Petani menuai kendala soal kesiapan tanah tambak garam yang masih lembek akibat kemarau basah tahun lalu dan musim hujan tahun ini. (Foto: Pujianto)

 

KALIORI, mataairradio.com – Para petani garam di Kabupaten Rembang mendesak Pemerintah agar mengurungkan impor 75.000 ton garam berasal dari Australia yang dijadwalkan masuk lewat PT Garam (Persero) pada 10 Agustus mendatang.

Menurut petani, sejak rencana impor garam tersebut mencuat ke publik, harga komoditas itu di Rembang, mengalami fluktuasi. Garam hasil panen petani dalam sepekan terakhir bahkan belum sampai terserap, karena tengkulak was-was harga.

Nawawi, petani garam di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori mengatakan, harga garam kualitas umum-putih pada Kamis (3/8/2017), berkisar antara Rp3.000-Rp3.200 per kilogram atau anjlok dari harga sebelumnya yang Rp4.000 per kilogram.

“Begitu ada kabar kalau garam impor mau masuk, harga garam lokal langsung turun. Tengkulak membeli garam petani dengan harga rendah; khawatir begitu garam impor masuk harga garam lokal langsung anjlok,” katanya kepada mataairradio.com.

Ia menyebutkan, pada satu sisi, masuknya garam impor bisa menyetabilkan tingkat harga garam konsumsi di pasaran, tetapi pada sisi lain, petani menjadi tidak dapat menikmati harga tinggi di saat kini mereka baru mulai melakukan panen garam.

“Kalau baru sebentar panen, garam impor sudah masuk, petani ya nggak menikmati. Kemarin itu waktu harga tinggi, sebagian besar petani kan tidak menikmati karena nggak bisa produksi gara-gara cuaca masih banyak hujan,” paparnya.

Lagi pula menurutnya, jika yang masuk adalah garam impor berasal dari Australia, cenderung tidak cocok dengan kebutuhan konsumen di Rembang, terutama apabila digunakan untuk usaha ikan asin. Pasalnya, garam Australia cenderung keras.

“Garam impor dari Australia itu keras dan butirannya besar-besar. Tidak cocok untuk usaha pengasinan ikan. Mungkin kalau untuk usaha lain cocok, sedangkan yang dibutuhkan di Rembang kan buat pengasinan ikan. Untuk briket mungkin cocok,” katanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan