Petani Pugar Rembang Sesalkan Keterlambatan Geomembran

Kamis, 16 Oktober 2014 | 16:57 WIB
Kasmijan, petani Pugar di Dresi Kulon Kecamatan Kaliori saat memanen garam dari media isolator, geomembran, Kamis (16/10/2014) sore. (Foto: Pujianto)

Kasmijan, petani Pugar di Dresi Kulon Kecamatan Kaliori saat memanen garam dari media isolator, geomembran, Kamis (16/10/2014) sore. (Foto: Pujianto)

 

KALIORI, mataairradio.com – Sejumlah petani penerima program pemberdayaan usaha garam rakyat (Pugar) di Kabupaten Rembang menyesalkan adanya keterlambatan pasokan geomembran. Hingga Kamis (16/10/2014) siang, umumnya mereka mengaku baru sekitar setengah bulan menggunakannya.

Kasmijan, petani Pugar asal Desa Dresi Kulon Kecamatan Kaliori mengatakan, hasil panen garam dari penggunaan media isolator jenis geomembran atau sejenis plastik tebal, lumayan menggembirakan.

“Garam yang dipanen dari media geomembran, bagus. Selain warnanya putih, butiran kristalnya juga lumayan besar. Kalau seperti ini, kami menyesalkan kenapa baru belakangan datangnya (plastik media isolator, red.),” katanya.

Dia yang ditemui di tambaknya mengaku belum sampai menjual garam hasil panen dari media isolator. Dia pun mengaku sudah dua kali panen. Untuk satu kali panen, dirinya butuh waktu paling lama tiga hari.

“Soal harga garam yang dihasilkan dari media geomembran, kami belum tahu. Dua kali panen, belum pernah kami jual. Tak simpan dulu. Namun yang jelas hasilnya bagus,” tandasnya.

Rasyid, petani Pugar lainnya juga dari Dresi Kulon pun menyebut, hasil panen garam dari penggunaan media isolator lebih baik dari model tradisional yang langsung menggunakan mejanan tanah.

“Kalau dibandingkan yang biasa, mejanan tanah, yang pakai geomembran ini lebih baik. Hanya tadi itu, kok datangnya belakangan. Mestinya geomembran ini sudah siap sejak bulan Juli,” katanya.

Berbeda dari Kasmijan yang baru dua kali panen, Rasyid mengaku sudah tiga kali memanen garam dari tambak bermedia isolator yang digarapnya. Soal harga, dia pun mengaku belum tahu, karena belum sekalipun menjual.

“Harganya belum tahu saya. Tiga kali panen, belum sampai menjual. Katanya mau dilihat dulu. Semoga sih bagus. Kalau garam yang diproduksi dari tambak bermejanan tanah, kini Rp400 di tingkat petani,” ungkapnya.

Pada kesempatan terpisah, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pugar 2014 pada Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang Nurida Andante Islami menyebut keterlambatan pasokan geomembran kepada petani penerima Pugar, bukan karena kesengajaan.

“Tahu sendiri kan, di awal, banyak kebijakan yang berubah-ubah soal Pugar. Mulai dari jumlah nominal dana Pugar yang diterima sampai pada petunjuknya. Pemakaian geomembran ini juga baru pada tahap uji coba,” katanya.

Tahun ini, ada 504 petambak di Kabupaten Rembang yang mendapat kucuran dana pugar. Mereka tergabung dalam 56 kelompok usaha garam rakyat atau kugar. Total dana BLM Pugar 2014 mencapai Rp1,075 miliar.

“Pemesanan geomembran dilakukan melalui Koperasi Tridaya Abadi di Gedongmulyo Kecamatan Lasem dan Koperasi Garuda di Dresi Kulon Kecamatan Kaliori,” terangnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan