Petani Kewalahan Melawan Serangan Ratusan Babi Hutan

Selasa, 12 Mei 2015 | 15:13 WIB
Ilustrasi (foto: sinarharapan.co)

Ilustrasi (foto: sinarharapan.co)

 
SLUKE, mataairradio.com – Para petani di wilayah Desa Sanetan Kecamatan Sluke kewalahan melawan serangan ratusan babi hutan yang merusak tanaman padi mereka. Serangan sudah berlangsung sejak sebulan yang lalu hingga Selasa (12/5/2015) ini.

Kepala Desa Sanetan Janadi menuturkan, babi hutan menyerang setiap pada malam hari. Petani hanya bisa mengeluh dan sekadar melakukan ronda di areal lahan pada malam hari. Kini ketika panen padi sudah hampir berlalu, babi hutan tetap saja mengacak-acak lahan pertanian.

“Kemarin itu pas mau panen, tanaman petani habis. Hampir tiap malam ada (serangan). Sebulan yang lalu sampai sekarang. Seringnya petani mengeluh dan banyak yang jaga pada malam hari. Ini habis panen, juga masih ada saja (serangan). Lahannya yang diacak-acak. Kewalahan,” terangnya.

Janadi mengaku belum melaporkan serangan hama babi hutan itu kepada pihak yang berwajib. Dia memilih meminta tolong kepada para tentara yang kini tengah terlibat kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Desa Sanetan untuk menggunakan senjata guna memberantas babi hutan.

Upaya membasmi hama dengan racun tidak dilakukan petani. Mereka khawatir, babi hutan yang mati tanpa diketahuinya tempatnya akan meninggalkan bau busuk. Janadi menambahkan, serangan babi hutan akan mereda, ketika tanaman benar-benar habis. Selama ini, babi hutan itu disebut dari wilayah Lasem.

“Ini saya juga ada tim dari TMMD dari TNI kan bawa senjata. Kalau malam bisa ditembak. Kalau diracun, nanti matinya kalau tidak ketahuan, kan bisa bau busuk. (Jumlah babi hutan yang menyerang) Ratusan itu. (Dari) Daerah Gowak, Lasem. Mereda kalau sudah gak ada tanaman sama sekali,” imbuhnya.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sluke Marsam menambahkan, serangan babi hutan juga terpantau terjadi di wilayah Rakitan dan Manggar. Jumlah babi hutan yang menyerang memang mencapai ratusan dan beraksi pada malam hari.

Pihaknya tidak bisa berbuat banyak, selain meminta kepada petani agar kemit ketika malam. Itu pun jika petani masih memiliki tanaman di lahan. Dia kini memilih mengandalkan para pemburu babi hutan, untuk menghalau serangan mereka.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan