Petani Jagung Perlu Bantuan Jajaki Pengusaha Makanan Ternak

Kamis, 24 November 2016 | 22:25 WIB
Panen jagung hibrida pada Kelompok Tani Jagung Margo Budi Desa Bulu Kecamatan mencatat hasil ubinan 13,6 ton per hektare. Jika dikurangi biaya yang timbul sejak tanam hingga panen serta harga yang saat ini berlaku di tingkat petani Rp2.400 per kilogram, maka tingkat keuntungan bersihnya disebut tembus Rp17 juta. (Foto: mataairradio.com)

Panen jagung hibrida pada Kelompok Tani Jagung Margo Budi Desa Bulu Kecamatan mencatat hasil ubinan 13,6 ton per hektare. Jika dikurangi biaya yang timbul sejak tanam hingga panen serta harga yang saat ini berlaku di tingkat petani Rp2.400 per kilogram, maka tingkat keuntungan bersihnya disebut tembus Rp17 juta. (Foto: mataairradio.com)

 

BULU, mataairradio.com – Para petani jagung di Kabupaten Rembang memerlukan bantuan dari pemerintah kabupaten setempat agar hasil dari panen mereka tidak selalu dikuasai pengepul.

Bantuan yang diperlukan itu antara lain agar mereka dihubungkan dengan pengusaha makanan ternak, sehingga jagung hasil panen mereka ini bisa dihargai secara lebih layak.

Bupati Rembang Abdul Hafidz pada kegiatan panen raya jagung hibrida di Desa Bulu Kecamatan Bulu, Kamis (24/11/2016) pagi merespon hal tersebut.

“Saya ingin setelah ini (panen raya, red.), dinas terkait langsung menjalin kerja sama dengan gabungan pengusaha makanan ternak agar petani tidak usah menjual kemana-mana,” ujarnya.

Menurutnya, harga jagung Rp4.100 per kilogram dengan kadar air 17 persen, layak diserap oleh pihak gabungan pengusaha makanan ternak, dan tingkat harga tersebut menjanjikan.

Panen jagung hibrida pada Kelompok Tani Jagung Margo Budi Desa Bulu Kecamatan mencatat hasil ubinan 13,6 ton per hektare.

Jika dikurangi biaya yang timbul sejak tanam hingga panen serta harga yang saat ini berlaku di tingkat petani Rp2.400 per kilogram, maka tingkat keuntungan bersihnya disebut tembus Rp17 juta.

“Jagung hibrida ini merupakan komoditas yang perlu ditingkatkan (pengembangannya). Apalagi pemerintah mengambil kebijakan melarang impor jagung,” katanya di kesempatan itu.

Pihak Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang mencatat, luasan lahan jagung di daerah ini mencapai 38.500 hektare. Tahun depan luasan itu ditarget bertambah 9.500 hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Suratmin membenarkan, serapan hasil panen petani masih lebih banyak masuk ke pengepul di daerah Sulang, Kragan, dan Sarang.

“Kalau kita langsung dengan gabungan produsen makanan ternak, bisa langsung mengetahui perkembangan harga. Segera kita akan bangun kemitraan dengan pengusaha produsen pakan ternak,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan