Petani Gelisah Pasar Garam Lesu di Rembang

Saturday, 24 October 2015 | 19:13 WIB
Seorang petani di Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang sedang memanen garam di tambak yang digarapnya, baru-baru ini. (Foto: Pujianto)

Seorang petani di Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang sedang memanen garam di tambak yang digarapnya, baru-baru ini. (Foto: Pujianto)

 

KALIORI, mataairradio.com – Para petani garam di Kabupaten Rembang menyatakan gelisah karena pasar komoditas itu kini sedang lesu.

Harga garam pun jeblok, sehingga mereka hanya bisa menumpuknya sebagai stok di gudang.

Nawawi, petani garam di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori, Sabtu (24/10/2015) pagi mengaku sudah memiliki stok 800 ton garam di gudang berkapasitas 1400 ton.

“Kami bukannya tak mau menjual, tapi tidak ada pedagang atau tengkulak yang membeli garam saat ini,” ungkapnya kepada mataairradio.

Jika pun membeli, menurutnya, para pedagang hanya mengambil dalam satuan kecil atau hanya beberapa ton saja.

“Padahal harga garam kualitas umum putih hanya Rp230 per kilogram saja,” bebernya.

Para tengkulak, katanya, berdalih tidak bisa “membuang” garam karena pasar sedang lesu.

Sumito, petani garam lainnya di Desa Dresi Kulon Kecamatan Kaliori pun menyatakan hal yang sama.

Menurutnya, memang wajar kalau harga garam anjlok ketika masa panen.

“Tetapi yang lalu-lalu, pembeli garam, entah itu pedagang atau tengkulak, masih ramai membeli meski harganya murah,” katanya.

Senada dengan Nawawi, dia pun hanya bisa menyetok garam di gudang, sembari menunggu ada pedagang atau tengkulak yang membeli.

“Iya ditimbun. Saya sudah ada sekitar 150 ton garam kualitas umum putih,” katanya.

Dia juga menyebutkan, harga garam kualitas umum putih masih Rp230-Rp250 per kilogram.

Sumito yang memproduksi garam di lahannya di Dusun Ngelak Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori berharap kepada Pemerintah agar membantu pemasaran.

“Harapan kami juga, agar harga garam bisa menyentuh Rp300 per kilogram agar kami tidak banyak rugi di ongkos pekerja dan angkutan,” kata dia.

Kepala Seksi Pengawasan Sumber Daya Kelautan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang Nurida Andante Islami mengaku telah berupaya agar garam produksi petani bisa diserap pasar industri.

“Yang dibutuhkan industri, biasanya garam kualitas satu yang butirannya besar dan putih,” katanya.

22 Oktober lalu, pihaknya juga sudah menggandeng PT Garam (Persero) Surabaya, untuk membeli garam produksi petani Rembang.

Sejauh ini, pihak perusahaan baru meminta sampel atau contoh garamnya.

“PT Garam siap membeli dengan harga Rp750, sampai di pabrik,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan