Petani Garam Rembang Belum Lirik Teknik Rumah Prisma

Tuesday, 29 August 2017 | 16:16 WIB

Seorang petani garam memanen komoditasnya di tambak garam Desa Punjulharjo Kecamatan Rembang, Selasa (29/8/2017). (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Sejumlah petani garam di Kabupaten Rembang masih belum melirik teknik pembuatan garam dengan rumah prisma seperti yang dikembangkan di daerah Lamongan.

Teknik pembuatan garam dengan rumah prisma dilakukan dengan menggunakan bangunan dari bambu berbentuk prisma berpenutup plastik transparan.

Sebagian petani mengaku belum tahu mengenai teknik itu dan sebagian lainnya menilai teknik pembuatan dengan rumah prisma itu tak sesuai dengan kondisi di Kabupaten Rembang.

Sutris, salah satu petani garam di Desa Punjulharjo Kecamatan Rembang mengaku hanya tahu teknik geoisolator, yaitu dengan menggunakan plastik geomembran untuk melapisi mejanan tanah pada tambak.

“Belum tahu (rumah prisma). Tahunya ya yang pakai plastik itu, yang ditaruh di bawah untuk menutupi mejanan tanah. Tapi saya nggak pakai itu (geoisolator), pakai tanah biasa,” katanya pada Selasa (29/8/2017).

Nawawi, pengusaha garam di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori menyebutkan, pembuatan garam dengan menggunakan teknik rumah prisma tidak sesuai diterapkan oleh petani garam di Rembang.

Menurutnya, kondisi angin di Rembang terlalu kencang dan lokasi tambak petani kebanyakan terlalu rendah.

Ia menjelaskan, teknik rumah prisma memerlukan kondisi lingkungan yang kecepatan anginnya tidak terlalu kencang dan lokasi tambaknya berada dalam posisi yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya, sehingga apabila hujan airnya tidak bisa masuk.

“Sisi positifnya kalau menggunakan rumah prisma itu suhunya bisa tinggi, kalau untuk garam prosesnya bagus, cepat,” jelasnya.

Ia mengatakan, garam yang dihasilkan dengan menggunakan teknik rumah prisma jauh lebih bagus dan putih, karena bebas dari debu dan kadar NaCl-nya juga jauh lebih tinggi sekitar 95 bahkan bisa lebih.

Nawawi menambahkan, garam hasil rumah prisma cocok untuk kebutuhan industri.

Sementara itu, hingga masuk pekan terakhir bulan Agustus, harga garam di Rembang menurun.

Sebelumnya harga garam seragam tanpa disesuaikan perbedaan kualitas, namun saat ini sudah berubah.

Harga garam untuk kualitas satu Rp2.000 per kilo, kualitas dua sekilonya Rp1.000-Rp1.500, sedangkan untuk kualitas tiga dihargai Rp1.100 setiap kilonya.

Menurut Nawawi, petani garam yang menggunakan geoisolator baru sebagian, akibat minimnya pelatihan dari Pemerintah.

Padahal apabila petani mampu menggunakan teknik geoisolator secara maksimal, maka katanya, hasil garamnya akan menjadi bagus dan harganya masuk pada golongan kualitas satu.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan