40 Kelompok Petani Garam Rembang Gunakan Geomembran

Rabu, 16 April 2014 | 17:20 WIB
Pertemuan penguatan kapasitas kelembagaan program Pugar 2014 di Gedung KPRI Rembang, Rabu (16/4) pagi. (FotoPujianto)

Pertemuan penguatan kapasitas kelembagaan program Pugar 2014 di Gedung KPRI Rembang, Rabu (16/4) pagi. (FotoPujianto)

REMBANG, MataAirRadio.net – Sebanyak 40 kelompok petani garam di Kabupaten Rembang akan menggunakan geomembran atau lembaran plastik berbahan baku HDPE. Bahan tersebut diadopsi untuk memacu kualitas produksi garam petani guna memasok kebutuhan industri.

Hal itu terungkap dalam pertemuan penguatan kapasitas kelembagaan program Pugar 2014 di Aula KPRI Rembang, Rabu (16/4) pagi. Calon penerima dana Pugar 2014 juga diminta bersedia menerapkan teknik ulir filter pembuatan garam.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang Suparman menjelaskan, fokus penggunaan dana Pugar 2014 adalah peningkatan kualitas produksi dan pemberdayaan masyarakat menuju swasembada garam industri.

Dia menyebutkan, 40 kelompok penerima Pugar 2014, paling banyak tersebar di Kecamatan Kaliori dengan 25 kelompok, disusul Lasem 9 kelompok, dan Kecamatan Rembang enam kelompok. Total bantuan yang akan dikucurkan mencapai dua miliar rupiah.

Penggunaan geomembran dengan teknik ulir filter dalam pembuatan garam dilakukan dengan menjernihkan terlebih dulu air baku sebelum dituang ke meja hablur berhamparan geomembran. Kejernihan air baku diyakini meningkatkan kualitas garam yang akan dihasilkan.

Selama ini, garam yang dihasilkan petani dari teknologi biasa, memiliki kualitas rendah karena bercampur tanah, sehingga kadar NaCl-nya pun rendah. Kualifikasi garam pun paling mentok kualitas kedua atau ketiga, dan larinya sekadar garam grosok.

Rasmani, salah seorang petani garam dari Desa Purworejo Kecamatan Kaliori mengatakan, teknik ulir sudah diterapkan petani. Namun ulir filter memang belum pernah dijajal karena minimnya kemampuan membeli peralatan tambahan, seperti bilah bambu.

Dia mengakui, garam produksi petani lebih sering berkualitas kedua atau ketiga. Harga jualnya pun sulit diungkit. Rasmani berharap dengan menggunakan geomembran, ada peningkatan kualitas produksi.

Produksi garam di Kabupaten Rembang tercatat mengalami fluktuasi dalam tiga tahun terakhir. Jika pada 2011 mampu diproduksi 125.109 ton garam, maka di tahun 2012 mampu naik hingga 186.531 ton. Namun tahun kemarin, merosot tinggal 107.121 ton.

Pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang menjelaskan, penurunan produksi garam di tahun 2013 terjadi akibat dari anomali cuaca yang menyebabkan musim kemarau menjadi pendek. Tetapi dinas mengklaim ada perbaikan kualitas garam dengan penerapan meja terpal. Meski demikian, pihak kementerian tidak merekomendasi garam yang diproduksi dari meja terpal. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan