Petani Garam Kaliori Ragu Gunakan Meja Terpal

Jumat, 23 Mei 2014 | 18:30 WIB
Lahan tambak bermeja terpal milik Haji Ali di Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori, Jumat (23/5) pagi. (Foto: Pujianto)

Lahan tambak bermeja terpal milik Haji Ali di Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori, Jumat (23/5) pagi. (Foto: Pujianto)

KALIORI, MataAirradio.net – Sejumlah petani garam di Kecamatan Kaliori mengaku masih ragu untuk menerapkan teknik pembuatan garam bermeja terpal atau geo membran. Mereka khawatir harga garam yang diproduksi dari meja terpal, sama saja dengan produksi di meja tanah biasa.

Lasno, petani garam asal Desa Tambakagung mengaku lebih memilih memproduksi garam dengan meja tanah biasa. Padahal program Pugar mengamanatkan kepada petani untuk mengembangkan garam bermeja terpal atau geo membran.

Jika harga garam produksi meja terpal, sama dengan yang diproduksi di meja biasa, Lasno menyebut petani masih merugi. Sebab, membuat garam di meja terpal, perlu selalu air tua dan dianggap ribet. Soal panen, dia menyebut sama, setiap dua hari sekali.

Lasno juga mengaku sudah sempat sekali panen pada bulan ini. Harga garam anyar, Rp500 per kilogram, sedangkan garam timbunan Rp650 per kilogram. Namun saat ini, dia belum bisa lagi produksi, karena cuaca kerap hujan dalam seminggu terakhir.

Dia pun menunjukkan contoh tambak yang telah menggunakan meja terpal. Lokasinya persis di utara tambaknya. Dia menyebut harga panen pun sama dengan yang diproduksi dari meja tanah biasa. Menurutnya, Dinas Kelautan dan Perikanan, perlu mengupayakan jaminan pasar.

Bariyono, petani garap tambak garam asal Desa Dresi Kulon juga mengaku belum akan menerapkan meja terpal. Dia masih menunggu hasil pertimbangan dari bosnya yang seorang dokter di Kudus. Jika memang dibiayai, dia tetap akan mengembangkan garam meja terpal.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang Suparman mengakui, kendala pemasaran menjadi tantangan bagi pemberdayaan usaha garam rakyat. Namun saat ini, upaya meretas kerjasama dengan sejumlah pabrik, terus dijalin.

Menurutnya, ada sejumlah pabrik yang siap menerima pasokan garam petani Rembang. Namun syaratnya garam berkualitas satu, berbutir besar, utuh, dan putih. Pembuatan garam dengan meja terpal, diklaim bisa mewujudkan garam kualitas satu. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan