Petani Datangi Dinas Pertanian Rembang Protes Paket Pupuk

Selasa, 11 Februari 2014 | 14:05 WIB
Dua orang petani Desa Panohan Kecamatan Gunem saat mengadukan praktek penjualan pupuk secara paket oleh pengecer di daerahnya, Selasa (11 2) siang. (Foto:Puji)

Dua orang petani Desa Panohan Kecamatan Gunem saat mengadukan praktek penjualan pupuk secara paket oleh pengecer di daerahnya, Selasa (11 2) siang. (Foto:Puji)

REMBANG, MataAirRadio.net – Dua orang perwakilan petani Desa Panohan Kecamatan Gunem mendatangi kantor Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Selasa (11/2) siang. Mereka memprotes kebijakan pengecer yang mewajibkan pembelian pupuk bersubsidi secara paket.

Arif Abidin, warga sekaligus Pengelola Gabungan Kelompok Tani Barokah Desa Panohan menyatakan, petani berharap membeli pupuk sesuai kebutuhan. Menurutnya, sejak 2012, petani seolah dipaksa membeli pupuk secara paket.

Dia menyebutkan, setiap kali membeli pupuk, petani diwajibkan pengecer untuk membeli sekaligus satu sak urea, satu sak phonska, dan lima sak pupuk organik. Jika dirupiahkan, nilainya mencapai 225.000. Petani sebenarnya tidak berkeberatan memakai dosis pemupukan secara berimbang. Namun mestinya dilakukan bertahap agar petani tidak berat di ongkos.

Kedatangan dua orang petani Desa Panohan itu diterima Kepala Seksi Usaha Tanaman Pangan dan Hortikultura Ika Himawan Affandi. Dia mengatakan, pihaknya sebatas menyarankan dosis pemupukan berimbang, bukan menjual pupuk dengan sistem paket.

Menurut Ika, dosis pemupukan untuk satu hektare tanaman pangan jenis padi, masing-masing 300 kilogram urea, 100 kilogram phonska, 25 kilogram SP-36, dan 25 kilogram ZA. Pemupukan dilakukan dua kali dalam semusim.

Namun jika pada kenyataannya terjadi penjualan pupuk secara paket yang menyimpang dari anjuran pemupukan secara berimbang, Ika pun belum sampai akan melakukan penindakan. Pihaknya sebatas akan berkoordinasi dengan distributor untuk melakukan klarifikasi dan sanksi bila perlu.

Mengenai kemungkinan petani hanya membeli pupuk sesuai keinginan dan kebutuhan mereka, misalnya membeli satu sak urea saja, pihak Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, mementahkannya. Jika itu dilakukan, maka program pemerintah untuk menerapkan dosisi pemupukan berimbang tidak akan berhasil.

Sementara, pemupukan dengan pupuk kimia yang tidak terkendali, justru mengancam kesuburan tanah bahkan menjadikan rentan muncul penyakit atau hama tanaman. Mendengar penjelasan dari pihak dinas, dua petani itu menyatakan belum puas. Mereka tetap menginginkan pembelian pupuk sesuai kebutuhan petani. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan