Petani Cabai Sedan Terpukul Anomali Cuaca

Sabtu, 30 Januari 2016 | 13:39 WIB
Tanaman cabai terkena penyakit salah satunya karena pengaruh anomali cuaca. (Foto: agrowangi.blogspot.com)

Tanaman cabai terkena penyakit salah satunya karena pengaruh anomali cuaca. (Foto: agrowangi.blogspot.com)

 

SEDAN, mataairradio.com – Para petani cabai di wilayah Kecamatan Sedan mengaku terpukul oleh anomali cuaca.

Pertumbuhan tanaman cabai jadi terganggu oleh cuaca yang tidak menentu, padahal sudah memasuki fase bunga dan buah.

Yanto, petani cabai di Desa Sidomulyo mengatakan, tanamannya sebagian layu karena hujan deras pada beberapa hari sebelumnya.

“Ada sebagian tanaman yang hampir mati karena lumayan lama tergenang air. Padahal sebelum itu, tanaman yang kurang air, sudah mati-matian kami atasi dengan membuat sumur,” katanya.

Akibat panas-dingin yang tak menentu, cabainya yang mau berbuah, justru rontok. Anomali atau ketidaknormalan cuaca juga seolah mengundang serangan hama kutu pada cabai.

Tanaman yang berumur hampir dua bulan itu, kini menggambarkan bayang-bayang kerugian.

“Gambaran rugi, jelas,” katanya.

Di Desa Sidomulyo, menurut Yanto, ada cukup banyak petani yang menanam cabai. Selain cabai, ada juga yang menanam jagung.

Mereka menanam komoditas itu karena rendahnya curah hujan sejak Desember, sehingga tidak cukup bagi petani untuk memulai tanam padi, kecuali gogo rancah.

Sementara petani setempat tidak terbiasa dengan menanam padi bermodel tersebut. Total ada sekitar 50 hektare tanaman cabai di Desa Sidomulyo dan mengalami kendala yang sama.

Bayang-bayang kerugian makin jelas karena modal tanam dan perawatan yang dikeluarkan sudah cukup tinggi.

Yanto menyebutkan, ongkos yang ditelan sejak tanam sampai panen cabai per hektare berkisar antara Rp30-35 juta. Tingginya biaya itu karena saat ini upah buruh tani sudah Rp50.000 per hari per orang.

“Kami menanam satu hektare cabai dan mempekerjakan 12 orang buruh per harinya. Upahnya Rp50.000 per orang per hari,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan publikasi Pos Informasi Pasar dan Perdagangan (PIPP), harga rata-rata kebutuhan pokok masyarakat atau kepokmas di Kabupaten Rembang per 27 Januari 2016, untuk komoditas cabai merah keriting Rp27.000 per kilo.

Harga cabai merah besar Rp55.000 per kilo, cabai rawit Rp13.000 per kilo, dan cabai hijau Rp10.000 per kilogram. Adapun harga jagung pipilan yang kini juga banyak ditanam di Rembang, mencapai Rp6.000 per kilo.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan