Perubahan Budaya, Tantangan Ketenaran Karangjahe

Jumat, 19 Juni 2015 | 17:50 WIB
Akses jalan menuju Pantai Karangjahe Desa Punjulharjo Kecamatan Rembang. (Foto: Rif)

Akses jalan menuju Pantai Karangjahe Desa Punjulharjo Kecamatan Rembang. (Foto: Rif)

 
REMBANG, mataairradio.com – Ketenaran Desa Punjulharjo Kecamatan Rembang lewat objek wisata Situs Perahu Kuno dan Pantai Karangjahe disadari melahirkan tantangan berupa perubahan budaya masyarakat setempat.

Ilham Hamami, tokoh warga Desa Punjulharjo menyebut tantangan itu sangat besar, karena didorong oleh lalu-lalang pendatang atau wisatawan dari luar daerah. Ribuan orang yang datang ke wilayah desanya setiap minggu, membawa masing-masing budaya.

“Budaya itu ada yang baik, tetapi tidak sedikit yang kurang cocok dengan tradisi lokal. Sebut saja budaya konsumtif atau menggunakan uang secara berlebihan. Sebagai bagian dari warga, kami mesti selektif menerima budaya yang masuk,” katanya kepada mataairradio.

Nasrul Jamil, Kepala Urusan Kesra Desa Punjulharjo juga mengakui, ada banyak tantangan, selain keuntungan yang sudah dinikmati warga setelah muncul dua objek wisata di desanya. Yang paling perlu diwaspadai adalah perubahan budaya akibat pengaruh dari luar.

Menurutnya, pengunjung Situs Perahu Kuno dan Pantai Karangjahe yang beragam dan membawa budaya masing-masing, bisa meninggalkan pengaruh bagi masyarakatnya. Entah baik atau buruk. Nasrul sudah menyarankan kepada warganya agar lebih cerdas dalam menerima budaya.

“Tetapi dari kaca mata kami, dampak negatif dari ketenaran dua objek wisata di Desa Punjulharjo, belum terlihat. Suasana masyarakat masih seperti sebelum tahun 2008, atau saat Situs Perahu Kuno belum ditemukan. Di Ramadhan ini misalnya, aktivitas ibadah masih lebih menonjol ketimbang kegiatan di objek wisata,” tandasnya.

Sementara itu, di balik tantangan perubahan budaya, hadirnya objek wisata Pantai Karangjahe dan Situs Perahu Kuno di Desa Punjulharjo Kecamatan Rembang diklaim mengentaskan banyak warga yang sebelumnya hanya seorang pengangguran.

Ada belasan pedagang yang berjualan hampir setiap harinya dengan ditemani satu hingga dua orang pembantu. Mereka berjualan beragam makanan dan minuman, selain juga persewaan ban untuk renang serta terlibat sebagai penata parkir. Puluhan warga yang awalnya tunakarya, kini berpekerjaan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan