Pertunjukan Lintas Etnis Warnai Perayaan Imlek di Rembang

Thursday, 19 February 2015 | 19:07 WIB
Sendratari pada perayaan Tahun Baru Imlek 2566 di Balai Kedamaian Desa Karangturi Kecamatan Lasem, Rabu (18/2/2015) malam. (Foto: Pujianto)

Sendratari pada perayaan Tahun Baru Imlek 2566 di Balai Kedamaian Desa Karangturi Kecamatan Lasem, Rabu (18/2/2015) malam. (Foto: Pujianto)

 

LASEM, mataairradio.com – Sejumlah pertunjukan seni tradisional dan modern serta lintas etnis dan budaya mewarnai perayaan Tahun Baru Imlek 2566 di Balai Kedamaian, komplek Kelenteng Poo An Bio, Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Rabu (18/2/2015) malam.

Ratusan tamu undangan menyaksikan pentas seni barongsai dan sendratari tokoh kepahlawanan yang menceritakan perjuangan masyarakat Lasem yang terdiri dari kultur Jawa, Tionghoa, dan pesantren dalam melawan penjajah.

Pertunjukan yang biasanya digelar dengan instrumen tradisional tersebut, kali ini dipadukan dengan koreografi dan musik modern “rhythm and blues” atau RnB serta musik elektronik.

Acara yang berlangsung hingga pukul 00.00 ini, ditutup dengan pesta kembang api. Sejumlah petinggi Rembang seperti Pelaksana Tugas Bupati Abdul Hafidz, Kapolres AKBP Muhammad Kurniawan, serta sejumlah anggota dewan, tampak hadir.

Atas nama Pemkab Rembang, Plt Bupati Abdul Hafidz menyatakan turut berbahagia dan mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek bagi seluruh warga yang merayakan.

“Kami beharap, momentum ini dapat meningkatkan kebersamaan dalam membangun Rembang dengan penuh rasa perdamaian,” ujarnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang sempat dijadwalkan hadir, berhalangan dan mewakilkan Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) I Jawa Tengah Suko Mardiono.

Mewakili Gubernur, Mardiono mengatakan, perayaan Imlek telah menjadi momentum yang ditunggu masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan etnis Tionghoa telah menjadi bagian keberagaman sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

“Selain itu diterimanya kebudayaan tersebut adalah sebagai penghormatan, penghargaan bagi etnis Tionghoa, dimana hal itu menunjukkan perpaduan budaya antar-etnis Bangsa Indonesia tanpa adanya diskriminatif,” tandasnya.

Momentum perayaan tahun baru Masehi, Hijriyah, Saka, dan Imlek, perlu diwujudkan sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang maha Esa, guna berbuat lebih baik dari tahun sebelumnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan