Pertamina Cegah Migrasi Elpiji Melalui Stiker Larangan

Rabu, 12 Februari 2014 | 16:47 WIB
Sales Representative Rayon IV Gas Domestik Region III PT Pertamina Tiara Thesaufi (berbaju abu-abu, red) saat melakukan ispeksi di SPBE Pasarbanggi Rembang, Selasa (11/2) kemarin. (Foto: Pujianto)

Sales Representative Rayon IV Gas Domestik Region III PT Pertamina Tiara Thesaufi (berbaju abu-abu, red) saat melakukan ispeksi di SPBE Pasarbanggi Rembang, Selasa (11/2) kemarin. (Foto: Pujianto)

REMBANG, MataAirRadio.net – Pihak Rayon IV Gas Domestik Region III PT Pertamina menyatakan akan mencegah migrasi konsumsi elpiji dari non-subsidi ke subsidi di antaranya dengan menempel stiker larangan. Elpiji non-subsidi yang dimaksud adalah tabung isi 12 kilogram, sedang subsidi isi tabung tiga kilogram.

Sales Representative Rayon IV Gas Domestik Region III PT Pertamina Tiara Thesaufi mengatakan, stiker larangan konsumsi elpiji subsidi juga untuk menekan pembelian dari yang tidak berhak.

Menurut Tiara, mestinya elpiji subsidi hanya digunakan pada sektor rumah tangga dan usaha mikro. Sementara usaha menengah, kantin, dan hotel, wajib menggunakan elpiji non-subsidi.

Pihak Pertamina mengklaim, tingkat migrasi penggunaan elpiji dari 12 kilogram ke tiga kilogram sangat kecil. Sebab penebusan elpiji yang 12 kilogram masih berlangsung dengan order tetap, rata-rata 3.000 tabung per minggu, hingga awal Februari ini.

Dikonfirmasi MataAir Radio dari Rembang, Rabu (12/2) siang, Tiara juga membeber data konsumsi elpiji tiga kilogram untuk konsumen di kabupaten ini. Dia mengungkapkan, penyaluran elpiji tabung hijau di Rembang pada bulan Januari, mencapai 11.841 tabung per hari.

Menurutnya, angka penyaluran ini naik lima persen dari alokasi elpiji tiga kilogram pada bulan Desember 2013 yang hanya 11.300 tabung per hari. Sementara, penyaluran pada bulan Desember itu adalah yang tertinggi sepanjang tahun 2013.

Tiara menegaskan, karena kondisi konsumsi semacam itu, maka tidak ada alasan kelangkaan di tingkat pangkalan elpiji. Jika kelangkaan itu terjadi di tingkat pengecer, Pertamina tidak bertanggung jawab, karena jalur distribusi di pengecer di luar kewenangannya.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Rembang Muntoha mengatakan, karena pengecer bukan berada dalam jangkauan wewenang Pertamina, maka pihaknya menyarankan agar pangkalan tidak mengumbar jatah untuk mereka.

Sebab, jika pasokan ke pengecer terlalu banyak, maka stok elpiji rawan dimainkan spekulan atau tengkulak. Buntutnya, ketika konsumen di tingkat rumah tangga mencari elpiji subsidi di pangkalan, stok sudah habis. Akhirnya, konsumen dipaksa membeli di pengecer dengan harga yang tinggi. Belakangan, harga elpiji subsidi di pasaran terpantau ada yang mencapai Rp20.000 per tabung. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan