Persaingan Wisata Sengit, Pengelola Hutan Mangrove Optimistis

Friday, 22 January 2016 | 17:21 WIB
Objek wisata hutan mangrove dan jembatan merah di Dukuh Kaliuntu Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang. (Foto: Mukhammad Fadlil)

Objek wisata hutan mangrove dan jembatan merah di Dukuh Kaliuntu Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pengelola Hutan Mangrove dan Jembatan Merah di Dukuh Kaliuntu Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang optimis bisa tetap menyedot minat wisatawan, meski persaingan antar-objek wisata kini berlangsung sengit.

Ketua Pengelola Objek Wisata Hutan Mangrove dan Jembatan Merah Tarmuji menjelaskan, optimisme itu karena pihaknya baru saja menambahkan panjang jembatan atau jetty dari 100 menjadi 200 meter.

“Pengunjung menjadi bisa lebih puas menjelajahi kawasan hutan mangrove,” terangnya Jumat (22/1/2016) pagi.

Apalagi, pengelola juga berencana memperbaiki tempat parkir yang selama ini dianggap kurang representatif oleh sebagian pengunjung karena tak mampu menampung banyak kendaraan.

“Areal parkir akan diperluas dengan kebutuhan dana Rp20 juta. Tapi kas kami tinggal Rp6 juta,” bebernya.

Sahal, anggota tim pengelola objek wisata tersebut menambahkan, secara kunjungan, belakangan meningkat. Pada liburan sekolah hingga liburan tahun baru kemarin, pengelola mampu mengumpulkan Rp4 juta per hari, dari kutipan parkir.

“Sementara saat ini, jika hari biasa, pendapatan sekitar Rp150-300 ribu, sedangkan pada akhir pekan dan hari Minggu bisa tembus Rp1-2 juta,” katanya.

Ia mengakui, hujan dan terbatasnya lokasi parkir, menjadi faktor penyebab tingkat pendapatan tidak bisa maksimal.

“Belum lagi, akses menuju Hutan Mangrove dan Jembatan Merah, masih berupa lahan berpasir,” keluhnya.

Ia berharap ada bantuan penataan dari pemerintah atau investor. Saat ini, yang didengarnya baru sebatas rencana penataan dari pihak Dinas Pariwisata Rembang.

“Tapi belum jelas, kapan diwujudkan,” katanya.

Sementara itu, Mustaghfirin, salah seorang pengunjung asal Karimunjawa menyebut Hutan Mangrove Kaliuntu sebagai suguhan objek wisata yang menarik.

“Jika dikelola secara lebih baik, keberadaan hutan mangrove itu diyakini memberi banyak keuntungan bagi masyarakat setempat dan sekitar,” ujar dia.

Selain sebagai sabuk pantai yang melindungi tambak-tambak warga dari abrasi, hutan mangrove pun bisa menjadi tempat perkembangbiakan biota laut.

“Apalagi, buah dari mangrove bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pangan non-beras, termasuk bisa diolah menjadi emping mangrove,” pungkas dia yang seorang mahasiswa Undip Semarang.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan