Perkotaan Rembang Butuh Tambahan Biopori

Rabu, 8 Oktober 2014 | 10:28 WIB
Salah satu titik biopori di SMP Negeri 1 Lasem, Rabu (8/10/2014). (Foto: Pujianto)

Salah satu titik biopori di SMP Negeri 1 Lasem, Rabu (8/10/2014). (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Kawasan padat penduduk di Perkotaan Rembang disebut membutuhkan tambahan lubang serapan biopori. Pasalnya, hanya sekitar 20 persen wilayah kota ini yang tidak tertutup oleh perumahan dan paving.

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam pada Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Rembang Taufiq Darmawan mengatakan, banyak air hujan di perkotaan yang terbuang percuma gara-gara minim lubang resapan biopori. Dia mengakui, mayoritas kawasan perkotaan sudah tertutup oleh bangunan perkantoran, perumahan, dan lantai halaman berpaving.

“Kami memang butuh menambah lubang resapan biopori. Sejak 2010, kami sudah rintis biopori. Jumlahnya kini sudah mencapai 50.000 titik, mayoritas ada di wilayah Perkotaan Rembang,” kata Taufiq yang dihubungi mataairradio.com pada Rabu (8/10/2014) pagi.

Dia juga mengatakan, lubang resapan biopori yang kini sudah tertanam ini paling banyak berada di kawasan perkantoran, sekolah, dan kantor pemerintah. Dari jumlah biopori yang 50.000 titik, separuhnya baru dipasang pada September kemarin melalui program kerjasama dengan Kodim 0720 Rembang.

“Yang ideal sementara ini, pembuatan lubang biopori memang melalui kantor-kantor pemerintahan. Sebenarnya, kami telah memiliki sekitar 350 alat untuk biopori, termasuk yang kita berikan untuk masyarakat desa. Namun yang di desa, alatnya tidak banyak dimanfaatkan, sehingga harus kita dampingi,” terangnya.

Taufiq menambahkan, lubang resapan biopori yang sudah tertanam, lebih difokuskan untuk menyerap air hujan dan memperbaiki struktur tanah, bukan untuk penangkalan bencana banjir.

“Di Rembang, banjir bukan sebagai bencana yang paling rentan. Curah hujan di kabupaten ini termasuk rendah kalau di Jawa Tengah. Jadi lubang resapan biopori ini lebih untuk mengurangi limpasan air hujan ke sungai dan laut,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan