Perhutani Mantingan Sebut Kayu Gelap Masuk Ronggo

Selasa, 12 Agustus 2014 | 15:50 WIB
Data tebangan di hutan wilayah KPH Mantingan sepanjang 2014. (Foto:Pujianto)

Data tebangan di hutan wilayah KPH Mantingan sepanjang 2014. (Foto:Pujianto)

REMBANG, MataAirRadio.net – Perhutani KPH Mantingan menyebut banyak kayu gelap, hasil curian dari hutan masuk ke wilayah Ronggo Kecamatan Jaken Kabupaten Pati. Namun Perhutani tidak memiliki cukup nyali untuk membongkar sindikat aliran kayu hutan ke wilayah tersebut.

Wakil Administratur KPH Mantingan Mochammad Rizqon juga menyebut ada tekanan yang besar, sehingga tingkat pencurian kayu hutan di BKPH Ngiri dan Kalinanas yang cukup dekat dengan Ronggo, cukup tinggi. Pihaknya mengaku kewalahan mengatasinya tanpa bantuan masyarakat.

Dia membutuhkan bantuan dari pihak Dinas Kehutanan, Polres, serta Kodim Rembang untuk menekan tingkat pencurian kayu hutan. Rizqon menegaskan pengamanan dilakukan dengan patroli sepanjang 24 jam. Namun pencurian kayu hutan masih saja terjadi.

Menurut catatan pihak Perhutani KPH Mantingan, hingga Agustus ini, ada sekitar 3.200 hektare hutan yang menampung kayu jati dengan umur lebih dari 30 tahun. Saat ini, tebangan atau panen sedang dilakukan dengan target 10.000 kubik. Namun target itu hanya akan terwujud sekitar 8.650 kubik.

Selain karena roboh sebelum dipanen akibat bencana angin kencang, tidak tercapainya target itu juga karena pencurian. Menurut Rizqon, penebangan ini akan selesai pada akhir September mendatang. Dia juga menjelaskan, tebangan atau panen kali ini, sudah direncanakan sejak 10 tahun yang lalu.

Rizqon membenarkan pula bahwa jika terlalu lama dibiarkan, kayu hutan akan rawan pencurian. Dia menyebut, maksimal 50 tahun, kayu harus dipanen. Ia pun menyebut tidak ada kendala pengangkutan hasil hutan pada saat ini, karena sudah memasuki musim kemarau, sehingga jalanan kering.

Berdasarkan penelusuran MataAir Radio, di Desa Ronggo Kecamatan Jaken, memang ada cukup banyak usaha perkayuan. Soal bahan bakunya kebanyakan kayu jati berusia relatif tua, dilihat dari warnanya yang cokelat matang. Meski di desa tersebut, ada cukup banyak warga yang menanam jati, namun dilihat dari luasan dan umur pohonnya, tidak terlalu luas dan masih muda. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan