Peredaran Miras di Warung Kopi Masih Marak

Monday, 7 November 2016 | 15:54 WIB
Puluhan botol minuman beralkohol tinggi (miras) yang disita oleh petugas dari Polsek Sulang dari Supriyanto (38) warga RT 3 RW 3 Desa Kemadu Kecamatan Sulang, Jumat (4/11/2016). (Foto: Pujianto)

Puluhan botol minuman beralkohol tinggi (miras) yang disita oleh petugas dari Polsek Sulang dari Supriyanto (38) warga RT 3 RW 3 Desa Kemadu Kecamatan Sulang, Jumat (4/11/2016). (Foto: Pujianto)

 

SULANG, mataairradio.com – Tingkat peredaran minuman beralkohol tinggi (miras) di lingkup warung kopi di Kabupaten Rembang ditengarai masih marak, meskipun razia sudah dilakukan secara gencar.

Baru-baru ini, petugas dari Kepolisian Sektor Sulang menyita puluhan botol miras berbagai jenis dari sebuah warung kopi milik Supriyanto (38) warga Desa Kemadu Kecamatan Sulang.

Rinciannya, 13 botol anggur merah dengan kadar alkohol 14,7 persen, 12 botol kilin dengan kadar alkohol 19,7 persen, dan lima botol anggur kolesom dengan kadar alkohol 14,7 persen.

Kapolsek Sulang AKP Haryanto membenarkan tengara masih maraknya peredaran miras, jika didasarkan pada puluhan botol minuman dengan kadar alkohol tinggi yang disita dari Kemadu.

“Kami giatkan razia di warung-warung kopi di wilayah kami. Sebelum di Kemadu, kami juga lakukan razia serupa di warung-warung kopi pada sepanjang Jalan Landoh-Sulang,” bebernya.

Diduga, masih maraknya peredaran miras lantaran jerat hukum bagi para penjual yang terjaring razia, relatif ringan. Karena tergolong tindak pidana ringan, maka cukup wajib lapor.

“Yang di Kemadu itu, mirasnya kita sita untuk nantinya dimusnahkan, sedangkan penjualnya kita bawa ke kantor dan kita periksa. Karena tindak pidana ringan, ya wajib lapor,” terangnya.

Ketua Paguyuban Warung Kopi “Pesona” Kabupaten Rembang Jowansyah mengakui sulit mengontrol seluruh warung kopi sehingga seluruhnya bebas dari peredaran miras.

Namun, ia menyatakan sudah mengimbau para pelaku usaha warung kopi agar tertib pada aturan antara lain dengan tidak menjual miras di tempat usaha mereka.

“Tetapi memang ada yang patuh dan ada yang membandel. Kami sebatas mengingatkan. Tapi jika terus ngeyel, kami keluarkan dari paguyuban,” katanya.

Soal razia terhadap Supriyanto, ia menyebut yang bersangkutan bukan anggota paguyuban. Belakangan ini, sejak warung kopi kembali menjadi sorotan, imbauan bebas dari miras, terus digiatkan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan