Perbedaan Jenis Penahanan Tersangka Korupsi RSUD Disoal

Senin, 21 Desember 2015 | 19:04 WIB

Mujiono (tengah) dan Budi Harsono (baju biru) saat diperiksa oleh jaksa penyidik di Kejari Rembang pada pelimpahan tahap II dari pihak Polres setempat, Jumat 18 Desember 2015. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Lembaga Studi Pemberdayaan Masyarakat (Lespem) Rembang menyoal jenis penahanan yang berbeda terhadap 3 orang tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Gedung Paviliun Kartini RSUD dr R Soetrasno Rembang.

Menurut Koordinator Lespem Bambang Wahyu Widodo, setelah dilimpahkan dari kepolisian, kejaksaan mestinya menahan 3 tersangka itu di rutan, agar tidak menimbulkan spekulasi macam-macam di masyarakat.

“Kenapa tidak ditahan di rutan saja semuanya? Kenapa mesti ada yang ditahan dan ada yang tidak ditahan. Mestinya tidak ada diskriminasi karena sama-sama sebagai orang yang mesti bertanggungjawab,” katanya.

Apalagi Kejaksaan Negeri Rembang baru saja menerima penghargaan sebagai Kejari terbaik dalam pemberantasan korupsi.

Ia khawatir, perlakuan yang berbeda terhadap 3 tersangka korupsi itu menodai kepercayaan masyarakat kepada Kejari Rembang.

“Bagi kami aneh saja. Jangan sampai penghargaan sebagai Kejari terbaik dalam pemberantasan korupsi justru memberi ruang pada spekulasi yang tidak-tidak,” tandasnya.

Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Rembang Eko Yuristianto menjelaskan, 2 dari 3 tersangka tidak ditahan di rutan, tetapi hanya tahanan kota, karena pertimbangan kooperatif.

“Apalagi di tahapan penyidikan yang dilakukan oleh polisi, 2 tersangka yang jadi tahanan kota itu juga tidak ditahan,” terangnya.

Ia mengaku tidak khawatir diprasangkai yang tidak-tidak oleh publik akibat perbedaan perlakuan jenis penahanan terhadap 3 tersangka.

“Namun, agar polemik tersebut tidak berkepanjangan, dalam waktu dekat, berkas perkara tersangka akan dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor di Semarang,” tegasnya.

Saat dilimpahkan ke pengadilan, hakim akan menentukan apakah semua tersangka akan ditahan di rutan atau tahanan kota.

Eko menargetkan, berkas para tersangka akan dilimpahkan, setidaknya di akhir bulan ini. Meskipun ia mengakui, anggaran kejaksaan di tahun ini, sudah kritis.

“Kami berharap semua dilimpahkan ke pengadilan pada akhir bulan ini. Tidak sampai melangkah ke tahun depan. Ini kami sedang merampungkan rendak (rencana dakwaan),” katanya.

Kejari Rembang menahan 3 tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Gedung Paviliun RSUD dr R Soetrasno Rembang, Jumat (18/12/2015) lalu.

3 orang tersangka itu adalah Muhammad Zuhri, Budi Harsono, dan Mujiono. Ketiganya dari pihak kontraktor proyek.

Zuhri yang warga Sidoarjo-Jawa Timur merupakan Direktur Utama PT Dutarama, sedangkan Muji yang warga Tireman-Rembang merupakan kuasa direktur dan Budi yang warga Kabongan Lor adalah pelaksana proyek.

Setelah dilimpahkan dari kepolisian ke kejaksaan, Zuhri ditahan di rutan karena dianggap tidak kooperatif, sedangkan Budi dan Muji hanya menjadi tahanan kota.

Ketiganya dianggap merugikan negara sebesar Rp997 juta. Proyek Rp7,9 miliar yang dikerjakan mereka diduga disunat spesifikasi dan volumenya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan