Pengusaha di Rembang Jadi Eksportir Terbaik Indonesia

Friday, 16 October 2015 | 18:24 WIB
Bos PT Sasana Antik, Arifin, berdiskusi ringan dengan salah satu pekerjanya, belum lama inbi. (Foto: mataairradio.com)

Bos PT Sasana Antik, Arifin, berdiskusi ringan dengan salah satu pekerjanya, belum lama ini. (Foto: mataairradio.com)

REMBANG, mataairradio.com – Pengusaha furnitur sekaligus bos PT Sasana Antik di Desa Krikilan Kecamatan Sumber Arifin dinobatkan sebagai salah satu eksportir dengan kinerja terbaik di Indonesia.

Dia akan menerima penghargaan Primaniyarta dari Presiden Jokowi, 21 Oktober nanti.

Dihubungi mataairradio pada Jumat (16/10/2015) pagi, Arifin mengaku baru kali ini menerima penghargaan Primaniyarta.

Namun sebelumnya atau pada 2012, dia pernah dianugerahi penghargaan Upakarti dari Presiden SBY.

“Setelah itu, dua tahun beruntun, juara I eksportir tangguh nasional,” ungkapnya.

Baginya, penghargaan bergengsi Primaniyarta merupakan kebanggaan. Tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi staf dan seluruh karyawannya yang berjumlah 200-an orang.

“Penghargaan ini menambah spirit dan semangat bekerja,” tandasnya.

Mengenai apa kemungkinan yang membuat dirinya mendapat penghargaan tersebut, pengusaha muda kelahiran 1980 ini menduga lantaran dianggap sukses menerobos pasar global.

“Kami belum lama membuka dua kantor perwakilan di Eropa. Mungkin itu alasannya diberikan penghargaan,” kata Alumnus STIE YKPN Yogyakarta.

Arifin menyatakan membuka kantor perwakilan di Austria dan Jerman. Nama kantor dan pemiliknya atas namanya sendiri, sehingga tidak lagi bergantung pada pihak ketiga.

“Merek dagang dan produknya atas nama saya sendiri,” tegasnya.

Namun hal lain yang juga dilihat sebagai pertimbangan penganugerahan Primaniyarta adalah efek positif perusahaan bagi penyerapan tenaga kerja lokal.

Pengusaha yang pernah bangkrut dari bisnis sepatu di awal kariernya menyerap tenaga kerja lokal, meski belakangan menyusut.

“Tenaga kerja lokal, hampir semuanya. Tetapi sekarang menyusut,” bebernya.

Arifin menambahkan, penyusutan tenaga tenaga lokal bukan karena putus hubungan kerja atau PHK, melainkan lantaran memilih merantau ke luar negeri, terutama Malaysia.

“Mereka beranggapan penghasilan yang diterima dengan bekerja di Malaysia, lebih baik,” katanya.

Padahal, jika diperhitungkan berikut biaya hidup, selisih pendapatan di luar negeri dengan di lokalan, tidak jauh berbeda.

Namun alasan lainnya bisa jadi karena ingin memiliki pengalaman baru, yang diyakini tidak akan didapatkan jika tetap bekerja dekat dengan kediaman.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan