Pengembangan Objek Wisata di Rembang Terhambat Regulasi

Selasa, 21 November 2017 | 14:55 WIB

Tiga orang pengunjung menikmati wahana jembatan gantung di objek wisata Terasering di Desa Sendangcoyo Kecamatan Lasem, baru-baru ini. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pengembangan objek wisata di Kabupaten Rembang disebut terhambat oleh regulasi, sehingga pihak Pemerintah Kabupaten Rembang tidak bisa banyak berbuat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang Dwi Purwanto mengatakan, kebanyakan destinasi wisata di daerah ini dikelola oleh desa, baik lewat karang taruna maupun BUM-Des.

Ia menyatakan sulit mengintervensi kepengelolaan oleh desa, karena pengembangan destinasi wisata di desa menjadi kewenangan pemerintah desa, sesuai Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014.

“Untuk pengembangan destinasi wisata di desa, kami harus bermusyawarah dengan desa. Kita perlu MoU dengan desa; kita mau buat apa. Tidak semua desa mau diintervensi,” katanya.

Dwi juga menyebutkan, pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Rembang, baik yang berbasis pantai atau yang berbasi alam, akan diarahkan ke agrowisata. Tetapi ini pun terbentur kendala.

“Kalau untuk pengembangan wisata berbasis alam, kami juga terkendala terkait adanya regulasi dengan Perhutani,” tandasnya kepada mataairradio, Selasa (21/11/2017) siang.

Meskipun terkendala regulasi, ia menyatakan, pihaknya bukan tidak bergerak. Dwi mengaku melakukan pengembangan wisata di daerah ini dengan cara meningkatkan mutu sumber daya manusia.

“Kami punya Pokdarwis (kelompok sadar wisata, red.) yang kita optimalkan. Mereka melatih dan mendidik pelaku pariwisata, baik itu dari karang taruna maupun BUM-Des dari sisi keahlian dan keamanan,” paparnya.

Sementara itu, Dedi Yulianto salah satu pengelola objek wisata Taman Terasering di Desa Sendangcoyo Kecamatan Lasem menyatakan mengalami kesulitan pada saat awal pendidirian objek wisata di desanya.

“Ini kan menggunakan dana desa jadi butuh kesepakatan dari berbagai masyarakat. Memang ada pro dan kontra, tapi kita meyakinkan masyarakat untuk mengelola potensi wisata yang ada,” katanya.

Menurutnya, selama ini belum ada peran pemerintah dalam pengembangan destinasi wisata yang dikelolanya. Dampaknya, pengembangan potensi wisata di desanya menjadi terkesan lamban.

“Dinbudpar memang sempat berkunjung ke sini, sebulan setelah peresmian objek wisata Terasering pada September 2017. Namun sebatas berkunjung, tidak memberi bantuan,” terang Dedi.

Dedi menyebutkan, jumlah pengunjung di wisata Taman Terasering di Desa Sendangcoyo terbilang lumayan, yaitu 30-40 orang pada hari biasa, sedangkan untuk hari libur bisa mencapai 150-an pengunjung.

“Wahana wisata di tempat kita masih terbatas, terutama untuk kalangan usia remaja. Ke depan, kita berencana menambah wahana kolam renang dan sarana outbond khusus anak,” beber dia.

Pihaknya mencatat, pengunjung objek wisata Terasering Sendangcoyo berasal dari berbagai daerah, bahkan dari sejumlah kabupaten di Jawa Timur seperti Tuban, Lamongan, dan Jombang.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan