Pengecer Pupuk Bersubsidi Diganti Gara-gara “Adu Bokong”

Jumat, 28 Februari 2014 | 17:28 WIB
Rapat anggota Gapoktan Tani Jaya yang dimanfaatkan untuk melengserkan Abdul Halim dari pengecer pupuk bersubsidi di Desa Bangunrejo Kecamatan Pamotan, Kamis (27 2). (Foto Zamroni)

Rapat anggota Gapoktan Tani Jaya yang dimanfaatkan untuk melengserkan Abdul Halim dari pengecer pupuk bersubsidi di Desa Bangunrejo Kecamatan Pamotan, Kamis (27 2). (Foto Zamroni)

PAMOTAN, MataAirRadio.net – Puluhan petani yang termasuk dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Jaya Desa Bangunrejo Kecamatan Pamotan melengserkan Abdul Halim dari pengecer pupuk bersubsidi di desa setempat. Abdul Halim kepergok melakukan “adu bokong” alias memindahkan jatah pupuk untuk petani setempat ke petani lain di luar daerah.

Modusnya, saat truk pengangkut pupuk datang ke tempat Halim, segera datang truk lain yang langsung saling membelakangi. Sebagian pupuk lantas dialihkan ke truk itu dan dijual ke pembeli di luar daerah. Akibat praktek “adu bokong” ini, petani Desa Bangunrejo sempat kelimpungan karena harus berburu pupuk ke Kecamatan Sedan.

Abdul Hamid, salah seorang petani Bangunrejo mengatakan, aksi nakal Halim sebenarnya tercium sejak lama. Namun warga tidak dapat berbuat banyak. Puncak kejengkelan warga akhirnya diluapkan saat pertemuan gabungan kelompok tani pada Kamis (27/2) kemarin. Gabungan kelompok tani menyepakati pelengseran Halim. Halim pun hadir di pertemuan tersebut.

Pertemuan gabungan kelompok tani Desa Bangunrejo juga difasilitasi beberapa petugas dari Badan Ketahanan Pangan serta Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BKP dan P4K) Kabupaten Rembang.

Abdullah Adib, salah seorang petugas dari BKP dan P4K Rembang menegaskan, pengawasan secara intensif kepada pengecer diperlukan. Karena ketersendatan pasokan pupuk salah satunya akibat ulah pengecer nakal. Dengan menjual pupuk ke luar daerah, mereka mengincar keuntungan lebih dan mengorbankan kepentingan petani setempat.

Adib juga berharap kepada petani agar memiliki perhitungan yang tepat dalam pembelian pupuk. Menurutnya, lebih baik membeli pupuk lebih awal daripada secara serempak dan mendadak yang berakibat pada penyerapan berlebih.

Sementara itu, Abdul Halim dalam kesempatan itu tidak banyak bereaksi atas pelengserannya. Dia seperti pasrah tatkala semua kelompok tani menghendaki pencopotannya sebagai pengecer. Dia berdalih nekat melayani pembeli dari luar daerah karena mereka sedang membutuhkan. Halim memanfaatkan letak rumahnya yang cukup jauh dari permukiman warga lainnya untuk beraksi. Namun, warga tetap saja memergokinya. (Zamroni)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan