Pencairan JHT Membeludak, BPJS Kehabisan Formulir

Kamis, 3 September 2015 | 21:40 WIB
Suasana pengajuan pencairan dana jaminan hari tua di Kantor BPJS Kesehatan Rembang, Kamis (3/9/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

Suasana pengajuan pencairan dana jaminan hari tua di Kantor BPJS Kesehatan Rembang, Kamis (3/9/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

 

 

REMBANG, mataairradio.com – Puluhan pekerja pemegang kartu Jamsostek yang telah berhenti bekerja atau terkena PHK, Kamis (3/9/2015) pagi, datang berbondong-bondong ke kantor BPJS Ketenagakerjaan di Jalan Kartini Rembang.

Mereka akan mengajukan pencairan dana jaminan hari tua (JHT), yang sebelumnya hanya boleh dicairkan apabila sudah berusia 56 tahun, meninggal, atau cacat total, tetapi sekarang boleh dicairkan oleh mereka yang mengundurkan diri, terkena PHK, atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.

Saking banyaknya yang datang, pihak BPJS Ketenagakerjaan sampai kehabisan formulir pengajuan. Satpam bahkan harus menenangkan para mantan pekerja dan mempersilakan mereka datang esok hari.

Laras, warga Mojorembun-Kaliori mengaku akan mencairkan seluruh saldo dana JHT untuk modal usaha. Sebelumnya, selama lima tahun dia bekerja di salah satu perusahaan di Serang, Jawa Barat.

“Sewaktu baru dua tahun kerja, saya sudah ikut Jamsostek. Jadi, praktis tiga tahun, saya jadi peserta. Saya berhenti kerja karena pulang untuk menikah. Jadi saya ada surat keterangan pengalaman kerja,” katanya.

Sewaktu menjadi peserta Jamsostek yang sekarang berganti nama menjadi BPJS Ketenagakerjaan, Laras mengaku rutin membayar premi bulanan, nilainya Rp40.000.

“Setelah tidak bekerja, saya tidak bayar premi lagi. Di saldo jaminan hari tua saya, tercatat masih Rp4 jutaan. Rencana untuk modal usaha,” jelasnya.

Jarwanto, warga Kumendung-Rembang mengaku mengurus pencairan dana JHT-nya karena dulu keluar baik-baik dari perusahaan tempatnya bekerja.

Dia pernah bekerja di perusahaan perakitan sepeda motor di Jakarta, belasan tahun yang lalu, meski hanya beberapa bulan.

“Saya pernah kerja di Astra 6 bulan. Lalu karena kontrak habis, pindah ke perusahaan lain. Setelah itu, kerja lagi di Astra. Karena saya berhenti baik-baik, ya ada surat pengalaman kerja,” ungkapnya.

Dirinya mengaku masih memiliki saldo dana JHT sebesar Rp2,2 juta. Rencana dicairkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Tetapi dia mengakui sempat panik karena kartu jamsosteknya hilang.

“Sempat panik karena kartu Jamsostek saya hilang. Untung saja, setelah dicek petugas BPJS Ketenagakerjaan, datanya masih ada. Sehingga saya disarankan untuk mengurus surat keterangan kehilangan dari polisi, agar bisa mencairkan bantuan,” katanya.

Berdasarkan pantauan, mereka yang mengajukan pencairan dana jaminan hari tua di BPJS Ketenagakerjaan Rembang, pagi itu, paling banyak adalah mantan pekerja pabrik rokok Bentoel, PT PDI Tresno yang dulu berlokasi di Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang.

Mereka itu di-PHK karena pabrik gulung tikar.

Menurut penjelasan petugas, persyaratan pencairan dana JHT untuk karyawan yang di-PHK adalah mengisi formulir dengan dilampiri KTP, KK, dan surat pengalaman kerja.

Karena pembayaran JHT dilakukan tidak secara tunai, maka peserta JHT wajib menyertakan pula rekening bank.

“Setelah pengajuan, seminggu kemudian, dana JHT baru ditransfer ke rekening,” pungkas Jarwanto.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan