Penambangan Ilegal Pasir Pantai Temperak Ditertibkan

Jumat, 10 April 2015 | 17:42 WIB
Satpol PP Rembang saat mengamankan barang bukti alat tambang pasir laut di Desa Temperak Kecamatan Sarang, Jumat (9/4/2015) malam. (Foto: mataairradio)

Satpol PP Rembang saat mengamankan barang bukti alat tambang pasir laut di Desa Temperak Kecamatan Sarang, Jumat (9/4/2015) malam. (Foto: mataairradio)

 

SARANG, mataairradio.com – Aparat Satpol PP Rembang beralih menertibkan penambangan pasir pantai di Desa Temperak Kecamatan Sarang menyusul kegagalan dalam merazia warung esek-esek di wilayah Desa Kalipang. Tiga unit gerobak sorong dan dua buah sekop disita oleh petugas.

Kepala Seksi Penegak Perda Satpol PP Rembang Sudarno mengatakan, aksi penambangan pasir pantai sudah sangat meresahkan. Penertiban oleh pihaknya dilakukan karena peringatan yang disampaikan oleh kepala desa setempat, sudah tak mempan. Padahal, penambangan pasir pantai mengundang bahaya.

Menurutnya, ketika pasir pantai terus dikeruk, air laut yang pasang akan makin mengancam permukiman warga. Abrasi pantai menjadi kian terbuka. Meski penambang merupakan warga sekitar, pengerukan pasir pantai itu tidak bisa terus dibiarkan.

“Setelah gagal menertibkan warung esek-esek, kita geser ke Temperak. Kita tertibkan aksi penambangan liar pasir pantai di Temperak. Kita amankan tiga gerobok sorong dan dua sekop. (Penambangan pasir pantai) Bahaya karena mengundang abrasi dan mengancam rumah warga,” terangnya.

Sudarno juga mengatakan, tidak ada satu pun penambang yang turut diamankan dari operasi penertiban tersebut. Para penambang tidak sedang beroperasi ketika petugas Satpol PP terjun ke lapangan. Menurut informasi, mereka beroperasi sejak pukul 19.00 hingga pukul 21.00 WIB.

Namun informasi lain yang dihimpun menyebutkan, para penambang pasir pantai, kadang beroperasi pada pagi hari, sejak pukul 05.00 hingga pukul 08.00 WIB. Sudarno menegaskan, penambangan pasir pantai dilarang oleh peraturan daerah.

Sejauh keterangan yang diterima, pasir pantai yang ditambang itu banyak dimanfaatkan oleh warga untuk campuran pondasi rumah. Tujuannya agar hemat biaya. Sudarno memastikan tidak ada informasi yang masuk soal kemungkinan pasir pantai dipakai campuran untuk pondasi bangunan proyek Pemerintah.

“Tidak ada penambang yang kita amankan. Waktu itu nggak ada yang sedang beroperasi. Katanya kalau malam mulai pukul tujuh sampai sembilan. Tapi itu pas nggak ada. Penambangan pasir pantai dilarang oleh perda, jadi kami tertibkan. Biasanya pasir pantai untuk campuran pondasi rumah,” bebernya.

Kepala Desa Temperak Nursafi menyebutkan, setidaknya 19 kendaraan beroda tiga jenis tossa, beroperasi tiap hari untuk mengangkut pasir pantai dari wilayah desanya. Umumnya, pasir pantai ini ditambang secara tradisional.

“Selanjutnya, pasir pantai itu dijual sebagai bahan bangunan rumah di daerah lain seperti Lodan, Banowan, dan sekitarnya. Harganya bisa sampai Rp50.000 per tossa. Namun penjualan dikhawatirkan melebar ke proyek Pemerintah,” ungkapnya.

Menurutnya, para penambang beroperasi tak kenal waktu pada pagi dan malam hari. Mereka baru beroperasi ketika air laut surut. Nursafi mengaku tak kuasa mengendalikan aksi liar warganya dengan dalih kaitan urusan perut.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan