Pemkab Rembang Tak Ajukan lagi Impor Garam

Friday, 4 August 2017 | 16:51 WIB

Petani garam di Desa Punjulharjo Kecamatan Rembang memanen garam hasil produksinya pada Kamis (3/8/2017). (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah setempat menyatakan tak mengajukan lagi impor garam, seiring panen garam di daerah ini.

Kepala Seksi Industri Agro pada Dinperindagkop UKM Kabupaten Rembang Sulistyo mengatakan, pihaknya sempat mengajukan impor 5.500 ton garam pada awal Juni lalu. Namun hingga Jumat (4/8/2017), baru dikirim sebanyak 500 ton.

“Kami masih menunggu 5.000 ton garam impor sisa dari kuota impor yang kita ajukan Juni lalu, sekaligus guna mengatasi kelangkaan pasokan garam di Rembang. Jadi, kita tidak lagi mengajukan kuota (baru) garam impor,” kata Sulistyo.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berencana mendatangkan 75.000 ton garam impor dari Australia melalui PT Garam (Persero) pada 10 Agustus 2017. Pemerintah berdalih impor itu guna mengatasi kelangkaan suplai garam di dalam negeri.

Sebelumnya, petani garam di Kabupaten Rembang mendesak Pemerintah mengurungkan impor komoditas tersebut. Sebab, baru muncul isu impor saja, harga garam langsung turun Rp1000 per kilogram. Petani ingin menikmati harga tinggi di awal panen.

Sodiq, salah seorang petani garam di Desa Punjulharjo Kecamatan Rembang mengaku baru sekali panen sejak mengawali musim produksi garam pada awal Juni lalu. Di saat harga garam tembus Rp4.000, ia tidak bisa produksi karena curah hujan tinggi.

“Saya baru panen sekali pada dua hari lalu. Dapatnya nggak sampai satu ton. Itu pun produksinya pakai terpal biar lebih praktis. Teman-teman juga pakai terpal yang dibeli sendiri-sendiri dengan ukuran 5×13-an meter. Saya beli untuk empat tambak garam,” ujarnya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan