Pemkab Rembang Sulit Mendata Penganut Aliran Kepercayaan

Rabu, 9 September 2015 | 14:24 WIB
Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinbudparpora Rembang Karsono. (Foto: Pujianto)

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinbudparpora Rembang Karsono. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pemerintah Kabupaten Rembang kesulitan mendata jumlah penghayat aliran kepercayaan di daerah ini. Alasannya mereka jarang mau terbuka kepada masyarakat karena khawatir “diserang”.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Rembang Karsono mengatakan, kesulitan pendataan itu tidak bisa selesai dengan melihat KTP.

“Karena, ada yang kolom agamanya dikosongi lantaran menganut kepercayaan, tetapi ada pula yang tidak. Kami kesulitan mendata. Padahal tiap tahun dari provinsi pasti menanyakan (datanya),” katanya kepada mataairradio.

Terkait polemik penganut Sapto Darmo dengan warga Desa Plawangan-Kragan, dia mengaku belum mendapat laporan, meski sudah ada dua kali rapat, di tingkat kabupaten dan desa.

“Sebagai pembina aliran kepercayaan di Rembang, saya tidak diberi tahu,” katanya.

Namun tentang nama Sutrisno alias Sapari yang menjadi Ketua Sapto Darmo di wilayah Kragan, dia sudah beberapa kali ketemu dan sudah dipesan agar menjaga keharmonisan dengan warga sekitar.

“Kalau yang disoal warga adalah pembangunan sanggar atau tempat ibadah, mesti ditelusuri dulu bagaimana izinnya kepada desa atau masyarakat yang ada di sekitarnya,” tandasnya.

Secara kepercayaan, dia menilai tidak ada yang perlu dirisaukan dengan Sapto Darmo dan aliran kepercayaan lainnya yang terdaftar karena mengajarkan nilai-nilai luhur.

“Tetapi jika ada amalan yang berbenturan dengan norma, misalnya menghalalkan pelanggaran kesusilaan, hal itu perlu diluruskan,” tegasnya.

Karsono menambahkan, di Rembang, berkembang 12 aliran kepercayaan. Selain Sapto Darmo yang memiliki pengikut terbanyak, ada juga Waringin Seto, Pramono Sejati, Prakarti, Kajaten, Kejawen, Cempaka Putih, Das Sanga, dan Liman Seto.

“Masih ada Pangestu, Wayah Kaki, dan Asmara Jati, tetapi ketiganya belum terdaftar (di Kantor Kesbangpolinmas Rembang),” imbuhnya.

Total, penghayat kepercayaan di Rembang, mencapai ribuan orang. Tetapi menurut Karsono, beberapa dari mereka, ber-KTP dengan keterangan agama yang sudah ada seperti Islam, Kristen, dan Buddha.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan