Pemerintah Rembang Diminta Paham dan Tangkal ISIS

Senin, 6 April 2015 | 17:10 WIB
Gerakan Wanita Rembang dan LSM Semut Abang melakukan aksi damai untuk menyuarakan penolakan terhadap paham radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Bundaran Pasar Rembang, Senin (6/4/2015) pagi. (Foto: mataairradio.com)

Gerakan Wanita Rembang dan LSM Semut Abang melakukan aksi damai untuk menyuarakan penolakan terhadap paham radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Bundaran Pasar Rembang, Senin (6/4/2015) pagi. (Foto: mataairradio.com)

 
REMBANG, mataairradio.com – Belasan orang yang mengatasnamakan diri Gerakan Wanita Rembang dan LSM Semut Abang melakukan aksi damai untuk menyuarakan penolakan terhadap paham radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Bundaran Pasar Rembang, Senin (6/4/2015) pagi.

Pada aksinya, mereka melakukan orasi dan membakar boneka ISIS. Koordinator aksi Suparno menyebut gerakannya sebagai dorongan moral bagi Negara untuk membasmi ISIS. Menurutnya, ISIS merupakan paham perong-rong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“ISIS bisa menyusup kapan saja ke Rembang. Apalagi di tengah kondisi darurat korupsi yang terjadi di kabupaten ini. Paham terlarang itu perlu diwaspadai sejak dini dan harus dicegah,” katanya.

Menurut Suparno, sampai sekarang, Rembang memang belum terdeteksi terjangkit ISIS. Namun secara nasional, isu ISIS sangat meresahkan. Aksi damai ini seperti ungkapan sedia payung sebelum hujan.

Ajakan kewaspadaan masyarakat di Rembang juga bukan tanpa alasan. Beberapa wilayah kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah, rentan terhadap penyebaran paham dan gerakan ISIS. Meski daerah rawan ISIS disebut baru Solo, Banyumas, Purbalingga, dan Cilacap, Rembang tetap harus waspada.

“Kami meminta kepada Pemerintah, termasuk Polres, Kodim, dan Bupati Rembang Abdul Hafidz agar paham dan bertindak nyata menangkal ISIS. Gerakan kelompok Islam radikal ini, tidak bisa dibiarkan,” tegasnya.

Kepala Bidang Ideologi dan Kewaspadaan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jawa Tengah Eko Prihardi menyebut, penyebaran paham ISIS perlu antisipasi secara simultan. Ia menilai, gerakan ISIS ibarat “macan tidur”, sehingga ancamannya sangat mengkhawatirkan terhadap bangsa dan negara.

Menurutnya, sejumlah warga Indonesia, ada yang rela menjual rumah dan tanahnya hanya untuk bergabung dengan ISIS karena mereka diiming-imingi gaji besar. Fenomena itu menunjukkan pola rekrutmen ISIS yang kreatif. Motif bergabung di ISIS pun tidak semata alasan ideologi, tetapi bergeser ke ekonomi.

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan